Kamis dalam Pekan Biasa XV, 14 Juli 2016


Yes 26: 7-16  +  Mzm 102  +  Mat 11: 28-30

 

 

 

Lectio

Pada waktu itu berkatalah Yesus: "marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.  Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.  Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan".

 

 

Meditatio

'Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu'. Inilah permintaan Yesus kepada semua orang yang letih lesu dan berbeban berat. Siapakah mereka? Pasti mereka adalah orang-orang kecil dan tak berdaya, yang tak mampu memperhatikan, merawat dan membiayai diri sendiri. Merekalah tentunya orang-orang yang perlu ditolong dan diperhatikan. Menolong orang yang mampu adalah sebuah kekeliruan yang amat besar. Malah ada lagi orang-orang yang mau membantu Tuhan Allah. Itu semua tentunya sebuah pengenalan Tuhan yang kurang sebagaimana mestinya. Tuhan Allahlah yang membantu dan menolong kita, dan bukannya kita yang menolongNya. Yesus mengundang mereka, dan memberi kelegaan kepada mereka. Yesus tidak memperhitungkan segala dosa dan salah mereka. Yesus tidak memperhatikan kepantasan dan kelayakan mereka. Mereka yang kecil, lemah dan tak berdaya, dipanggilNya semua, karena memang merekalah orang-orang yang membutuhkan uluran tanganNya. Yesus tidak memperhitungkan siapakah mereka, karena dalam konkritnya orang berdosa dan para pemungut cukai pun dirangkulNya.

'Pikullah kuk yang Kupasang, sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan', tegas Yesus. Kuk dan beban Yesus manakah yang terasa ringan? Bukankah kuk yang diberikan kepada kita adalah salib kehidupan? Apakah Yesus mau mengadakan pembiusan moral? Yesus tahu memang keluhan kita para muridNya, maka Dia menambahkan: 'belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan'. Kita diminta untuk berani belajar dan belajar tentang kehidupan daripadaNya. Kepandaian dan kelihaian yang dimiliki Yesus dibagikan dan diberikanNya kepada mereka yang membutuhkannya. Dengan rendah hati Yesus membagikannya kepada mereka. Dengan lemah lembut pula, Dia mengajari kita bagaimana memikul kuk yang diberikanNya itu. Yesus tidak hanya meminta orang memanggul salib, tetapi Dia juga membekali dan meneguhkannya.

Apakah Maria yang dihormati para karmelit ini memahami juga apa yang dikatakan Yesus? Maria sangat memahami segala yang dikehendaki sang Putera. Maria malah meminta kita, orang-orang yang telah diserahkan oleh sang Putera kepadanya (Yoh 19: 26-27), untuk melakukan apa yang dimintaNya. 'Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!' (Yoh 2: 5), pinta Maria kepada orang-orang yang bekerja untuk pesta perkawinan di Kana. Permintaan itulah yang disampaikan juga kepada kita. Maria meminta kita untuk mengamini sabda dan kehendak Anak Manusia.

Maria bahkan semenjak awal telah memanggul kuk dan beban Sang Anak yang dikandungnya. Simeon telah mengingatkan, bahwa sebilah pedang akan menembus jiwamu sendiri (Luk 2: 35), tetapi dia terus maju pantang mundur. Peringatan yang dilontarkan Simeon memang beban kehidupan, tetapi Maria terus maju dan maju, karena dia tidak merasa sendirian. Maria bersama Yesus. Maria menggendong Yesus dalam hidup keseharian. Itulah yang dilambangkan dengan patung Maria yang menggendong Yesus. Paulus membahasakan sikap Maria itu dengan berkata aku hidup, tetapi bukan aku sendiri yang hidup dalam diriku, melainkan Kristuslah yang hidup dalam diriku (Gal 2: 20). Bersama Yesus sang Putera, apa yang dikatakanNya 'kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan' sungguh-sungguh benar.

'Pikullah kuk yang Kupasang, sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan'. Permintaan Yesus inilah yang dikenang Maria agar kita selalu berani menerima kuk dan beban Yesus dan memikulnya. Maria, sang bunda, mengingat kita semua, yang sekaligus saudara dan saudarinya, agar kita memberikan diri, membiarkan bahu atau pundak (Latin: scapula) untuk memanggul beban dan kuk yang diberikan sang Penyelamat. Menggunakan skapulir adalah tanda kemauan setiap orang untuk memanggul beban yang diberikan Kristus. Sebagaimana Maria yang setia memanggul salib di bahunya, beban yang diberikan Kristus, demikian juga hendaknya kita yang mengaku: menghormati  dan meneladan Maria dalam mengikuti Kristus.

Maria yang berani memanggul beban Kristus akhirnya juga mendapatkan ketenangan, tidak takut dan gelisah ketika harus berada di bawah salib Kristus; bahkan Maria dengan tenang pula kembali menggendong sang Putera yang telah menyerahkan nyawaNya kepada Bapa (pieta). Maria tidak emosional. Dia 'menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya' (Luk 2: 19). Maria pun mendapatkan kelegaan, karena dia telah ikut serta memanggul salib kehidupan bersama Kristus sang Putera. Kelegaannya itu yang membuat Maria berseru:  jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bersukaria Allah Penyelamatku, sebab 'sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya' (2Tim 4: 8). RahmatNya diturunkan juga kepada semua orang yang takwa.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, dengan teladan bunda Maria kiranya kamipun semakin berani dalam memberikan diri untuk menerima kuk kami masing-masing, sebab Engkau sendiri yang hadir dalam gendongan kami, sehingga kami tidak takut dan gelisah lagi ketika harus menghadapi pelbagai masalah.

Bunda Maria dari Karmel, doakanlah kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Pikullah kuk yang Kupasang, sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan'.

 

 



Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012