Peringatan Santa Maria Magdalena, 22 Juli 2016


Kid 3: 1-4  +  Mzm 63  +  Yoh 20: 1.11-18

 

 

 

Lectio

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu,  dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.  Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan."  Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya."  Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru.  Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu."

Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

 

 

 

Meditatio

'Ibu, mengapa engkau menangis?', Tanya para malaikat yang menampakkan diri kepada Maria Magdalena ketika dia memasuki makam Yesus.  Jawab Maria kepada mereka: 'Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan'. Maria menjawab dengan ringannya, walau yang dihadapi itu adalah kedua malaikat. Kehadiran malaikat tentunya kehadiran ilahi yang memancarkan kemilau indah, tetapi tidak mampu menggugah kepedihan hati yang dirasakannya.  Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Lebih memilukan lagi, Yesus yang dicarinya dan menampakkan diri di hadapannya, tidak dikenalnya. Betapa sedih dan sakitnya hati sang perempuan satu ini. Kehadiran Tuhan tidak bermakna bagi dirinya.

'Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?', sapa Yesus kepadanya.  'Tuan', sahut Maria yang menyangka Yesus adalah penunggu taman, 'jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya'. Kenapa Maria sampai berkata demikian kepada Orang yang dicarinya? Apakah gelora cintanya, sebagaimana dilukiskan dalam kitab Kidung Agung: 'di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku hendak bangun dan berkeliling di kota; di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku'  (Kid 3: 1), telah berubah dan bahkan hilang? Apakah cinta yang katanya seperti maut (Kid 8: 6) itu hilang musnah karena kepedihan hati? Selain kepedihan hati dan jiwa, apakah yang tersirat dalam pikirannya? Apakah dia sering berhadapan dengan mafia, ketika dia masih bernafas dalam lumpur?  'Maria!', sapa Yesus secara lebih khusus lagi yang menyebut namanya. Sebutan nama sepertinya membukakan mata hati Maria, dan mengubah jiwanya yang mampu menjawab panggilan Tuhannya. 'Guru', sahut Maria sambil hendak merangkul sang Kekasih hati yang dicarinya itu. Yesus adalah sang Kekasih hati, karena memang Dialah yang telah membebaskan dirinya dari liang dosa, dan menjadikan manusia baru.

'Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu', kata Yesus kepadanya. Mengapa Yesus tidak mau disentuh? Bukankah Dia mempunyai tulang dan daging sebagaimana ditunjukkan kepada Tomas? Mengapa Yesus masih memperhitungkan waktu dengan mengatakan aku Belum  dan sekarang Aku? Mengapa Yesus juga membedakan Aku dan kamu, bukankah Dia sendiri yang mengajarkan doa Bapa Kami? Apakah karena Dia sudah meninggalkan kodrat manusiaNya? Namun bukankah Dia masih bisa diraba? Apakah kebangkitan memang membuat setiap orang kelak menjadi anak-anak Allah sebagaimana adanya, sebagaimana dikatakan Yohanes: 'sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya?' (1Yoh 3: 2).

Akhirnya Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: 'aku telah melihat Tuhan!' dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya. Gelora cinta Maria Magdalena terpenuhi juga, setelah dia mendengar dan melihat Tuhan Yesus. Matanya yang kabur karena kepedihan hati, ternyata mampu memandang kembali karena pendengaran hatinya yang tersisa. Berjumpa Yesus memberi semangat baru dalam hidup.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kamipun seringkali dibutakan dan ditulikan dengan masalah kehidupan kami, sehingga kami tidak mampu menangkap kehadiranMu. Tetapi, panggilanMu yang tiada henti kepada kami kiranya mampu menyadarkan kami akan kasihMu yang selalu menyertai dan menyelamatkan kami. Terima kasih, ya Yesus.

Santa Maria Magdalena, doakanlah kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Aku telah melihat Tuhan!'.

 

 

 


Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012