Pesta santo Yakobus, Rasul, 25 Juli 2016


2Kor 4: 7-15  +  Mzm 126  +  Mat 20: 20-28

 

 

 

Lectio

Pada suatu kali datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.  Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu."  Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat."  Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya." 

Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.  Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,  dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;  sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

 

 

 

Meditatio

Pada suatu kali datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Baik kali ibu kedua murid ini, berani datang memintakan sesuatu bagi kedua anaknya. Seorang ibu yang bertanggungjawab. Namun sang ibu datang dan meminta. Mengapa? Bukankah kedua anak, Yakobus dan Yohanes sudah dewasa? Apakah karena kedua bersaudara itu belum berkeluarga sehingga menjadi tanggungjawab dan perhatian orangtua?

'Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu', pinta ibu kepada sang Guru bagi kedua anaknya.  Mengapa ibu meminta hal ini bagi kedua anaknya? Minimal sang ibu sudah tahu banyak tentang Yesus Kristus, yang diikuti oleh kedua anaknya. Yesus itu Tuhan. Itulah pasti iman kepercayaan sang ibu dari kedua bersaudara itu.  Sang ibu sepertinya tidak mempersoalkan bagian kanan atau kiri. Bukankah Yesus akan menempatkan kawanan domba di sebelah kanan dan kawanan kambing di sebelah kiri? Yang penting, kedua anaknya duduk dalam Kerajaan sang Empunya kehidupan. Ibu ini tidak meminta bagi dirinya sendiri, atau bagi keluarganya melainkan hanya untuk kedua anaknya.

'Cawan-Ku memang akan kamu minum', sahut Yesus kepada kedua muridNya ini yang memang siap meminum cawan yang diberikanNya. Mereka siap memanggul salib kehidupan yang diberikan oleh sang Guru, mereka juga amat paham akan permintaan sang Guru. 'Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya'. Mengapa Yesus menjawab seperti itu? Bukankah mereka siap sedia mengamini sabda dan kehendakNya? Bukankah juga orang-orang yang dapat masuk Kerajaan Surga adalah mereka yang berani melakukan kehendak Bapa di surga? Mengapa sekarang Yesus berkata demikian? Siapa orang-orang yang hendak masuk Kerajaan Surga, yang bagi merekalah memang tempat itu disediakan? Apakah meraka juga telah melakukan segala kehendakNya?

Yesus sepertinya berkata demikian, karena dilihatNya kedua murid begitu mengandalkan diri dalam meminum cawan yang diberikanNya. Orang kaya yang berduit, yang pernah diingatkan Yesus pun juga mengandalkan dirinya, yang memang ternyata dia mampu merawat kedua orangtuanya, dan bahkan mereka tidak melakukan perampokan, tidak mencuri dan tidak berzinah karena harta yang dimilikinya. Selalu seseorang melakukan segala kebaikan hanya karena kekuatan diri tidaklah ada artinya bagi Tuhan sang Empunya kehidupan. Orang yang mampu berseru-seru Tuhan-Tuhan pun, bahkan mampu mengusir kegelapan dan mengadakan aneka mukijzat dalam nama Nya, tidak layak bagi Tuhan. Sebab tak dapat disangkal, mereka yang hanya mampu mengandalkan diri dalam melakukan aneka kebaikan masih sempat melakukan kejahatan, dan segala yang dilakukannya tidak disertai dengan kerendahan hati dan ketulusan jiwa. Paulus mengingatkan kita: 'harta pelayanan sebagai rasul kami miliki dalam tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang berlimpah itu berasal dari Allah, dan bukannya dari kami sendiri' (2Kor 7). Sebaliknya, setiap orang yang menyadari sungguh, bahwa yang dilakukan itu adalah kehendak Tuhan, dan dia memang mengamini sungguh apa yang diminta Tuhan Bapa di surga, maka pelayanannya pasti berkenan kepadaNya.

Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Mengapa para murid yang lain marah kepada mereka berdua? Apakah mereka semua merasa minder terhadap kedua bersaudara itu, karena mereka berdua siap menerima cawan yang diberikanNya? Ataukah karena mereka semua merasa tidak dilibatkan dalam permohonan  itu? Bukankah mereka itu satu panggilan? Satu komunitas? 'Kamu tahu', tambah Yesus kepada mereka semua, 'bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.  Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu'. Kehebatan seseorang bukan karena otoritas yang dimiliki, melainkan keberanian seseorang untuk melayani sesama, untuk menjadi sesama bagi orang lain. Itulah penegasan Yesus. Yesus pun menambahkan: 'sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang'. Yesus tidak hanya mampu mengajari bagaimana semua itu dapat dilakukan melainkan juga memberi contoh dan melakukan segala yang dibicarakanNya kepada para muridNya, kepada kita semua. Pelayanan Yohanes dan Yakobus kiranya akan benar-benar berkenan kepada sang Guru, kalau memang menjadi tebusan bagi banyak orang.

Mengapa pesta santo Yakobus tidak disatukan dengan pesta Yohanes saudaranya? Apakah karena perbedaan kualitas pelayanan? Atau karena Yohanes lebih ditonjolkan sebagai penulis Injil daripada sebagai seorang rasul?  Bukankah Petrus dan Paulus disatukan sebagai soko guru, walau berbeda tugas pelayanannya, bahkan mereka bertolak belakang dalam karyanya?

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami melakukan segala sesuatu dengan tidak mengandalkan kekuatan diri, tetapi berilah kami kerendahan dan ketulusan hati serta berani mengamin sabdaMu, agar kelak pun kami dapat menikmati kerajaan surgawi bersamaMu.

Santo Yakobus, doakanlah kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya'.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening