Rabu dalam Pekan Biasa XVI, 20 Juli 2016


Yer 1: 4-10  +  Mzm 71  +  Mat 13: 1-9

 

 

 

Lectio

Pada suatu hari keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.  Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.  Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.  Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.  Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.  Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.  Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"

 

 

 

Meditatio

Pada suatu hari keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Megapa Yesus duduk-duduk di tepi danau? Apa mencari udara segar Beliau? Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Dengan berdiri atau duduk di perahu memungkinkan Dia mengajar dengan tepat guna dan sasaran, dan tidak terhimpit banyak orang yang berdesak-desakan itu.  Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dia mengajar dalam aneka perumpamaan tentunya hanya ingin mempermudah para pendengar memahami sabda dan kehendakNya.

'Ada seorang penabur keluar untuk menabur', kataNya dalam sebuah perumpamaan. 'Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.  Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.  Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.  Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.  Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat'.

Benih yang jatuh di pinggir jalan, dan datanglah burung dan memakannya sampai habis, mengandaikan pewartaan sabda yang tidak menghasilkan apa-apa. Tidak ada yang melekat dalam diri seseorang. Semuanya hilang musnah, karena ketiada-siapan sang penerima.  Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis, tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar mengandaikan seseorang yang mempunyai iman yang amat tipis. Aneka persoalan hidup yang ada dalam dirinya begitu berkuasa dan pelbagai kesulitan hidup membuat dirinya abai terhadap karya pewartaan sabda. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, demikian juga tidak ubahnya yang jatuh di tanah-tanah berbatu-batu ini. Adanya aneka tawaran semacam kebenaran membuat dia meninggalkan segala yang dimilikinya.  Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat mengandaikan orang-orang yang mau mendengarkan sabda dan berusaha menghayatinya sehingga menikmati segala yang indah dan mulia dalam hidupnya. Sabda itu amatlah menjadi bekal dalam perziarahan hidup ini.

'Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!', pinta Yesus agar kita memahami perihal ini.

Kita ini termasuk pendengar sabda yang bagaimana? Apakah kita termasuk pendengar sabda Tuhan yang mudah menipu diri sebagaimana dikatakan santo Yakobus kemarin? (bab 1) atau kita suka mendengarkan sabda Tuhan, sebatas pengetahuan untuk penghiburan diri, sebab ketika menghadapi salib kehidupan iman kita rasanya terpontang-panting? Elia adalah seorang nabi yang diagung-agungkan oleh orang-orang Israel, sebab perkataannya bagaikan pedang bermata dua. Elia adalah salah seorang nabi yang menampakkan diri bersama Musa dan berbicara tentang perjalanan Yesus ke Yerusalem (Luk 9: 28-36). Dialah seorang nabi yang berani melawan dan menantang ratusan nabi baal. Kalau dia itu baal, ikutilah dia, kalau Dia itu Allah ikutilah Dia, teriaknya. Namun ketika Izebel menantang dirinya, nabi besar ini lari terbirit-birit. Semak berduri yang ada di depannya seakan-akan mau memakan dirinya. Elia adalah seorang pribadi yang sama dengan kita. Gertakan emosioal seseorang membuat orang lain yang ada di sekitar kita, atau mereka yang mendengarnya, akan merasa tidak nyaman. Namun dalam kelemahannya itu, Elia berani mendengarkan sapaan Tuhan, yang memanggilnya untuk naik ke gunung Karmel. Dan bahkan dalam angin sepoi-sepoi basa, Elia mengalami kehadiran Allah dengan indahnya. Ketika Allah menyapanya apa kerjamu di sini Elia,  Elia menjawab dengan tegasnya aku bekerja segiat-giatnya demi Allah Balatentara (1Raj 19: 14). Sabda Allah memang memberi kehidupan, dan kehadiranNya tidak dalam kegemparan dunia yang sorak-sorai, melainkan dalam desiran angin yang lembut, sepoi-sepoi basa. Allah memang hadir selalu dalam keheningan yang menyegarkan jiwa.

Pada hari raya Nabi Elia, kita semua warga Gereja diajak untuk semakin berani mendengarkan sabda dan kehendak Tuhan, dan merasakan kehadiranNya, bukan berdasar kemauan dan gambaran kita tentanng Allah, melainkan menurut keinginan dan kemauan Tuhan sendiri. Kedua, menjabarkan apa yang dikehendaki Tuhan dengan sapaanNya itu. Aku bekerja segat-giatnya demi Tuhan Balatentara  adalah pengenalan akan sabda Tuhan yang tidak cukup hanya untuk didengarkan, melainkan untuk dilaksanakan agar menghasil banyak buah.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami untuk dapat menjadi tanah yang baik, tempat sabdaMu dapat bertumbuh, berkembang dan menghasilkan buah berlimpah.

Nabi Elia, Pemimpin kami, doakanlah kami agar mampu merasakan kehadiran Tuhan Allah dalam keheningan diri. Amin

 

 

Contemplatio

'Sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat '.

 

 

 

 

Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012