Sabtu dalam Pekan Biasa XIV, 9 Juli 2016

Yes 6: 1-8  +  Mzm 93  +  Mat 10: 24-33

 

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus bersabda kepada para murid-Nya: 'seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya.  Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.  Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.  Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.  Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.  Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.  Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.  Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga'.

 

 

 

Meditatio

Suatu hari Yesus bersabda kepada para murid-Nya: 'seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya.  Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya'. Itu pandangan lama. Bukankah sekarang ini banyak murid lebih pandai daripada gurunya? Bukankah banyak orangtua pun ingin kalau dirinya mampu lari 1 km, anak-anaknya harus mampu lebih cepat daripada dirinya? Orangtua dan tentunya para guru ingin anak-anaknya lebih pandai dan sukses daripadanya?  'Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya'. Penyataan Yesus mengandaikan tantangan demi tantangan semakin hari akan semakin berat dirasakan oleh setiap orang yang percaya kepadaNya. Mengikuti Yesus semakin lama semakin berat salib yang harus dipikulnya. Dia Anak Manusia semakin menjadi bahan perbantahan seluruh umat manusia.   

'Janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.  Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah', tambah Yesus. Demikian pula sebaliknya para murid harus semakin berani menghadapi kenyataan. Segala yang didengarnya harus semakin tegas diwartakan kepada semua orang. Aneka kemajuan tehnologi malahan harus menjadi sarana untuk semakin kuat mewartakan sabda dan kehendakNya. Bukankah mereka harus cerdik seperti ular? Tumbuh kembangnya akal budi semakin membuka wawasan baru bagaimana sabda dan kehendak Tuhan itu harus segera dinikmati oleh seluruh umat manusia.

'Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka'. Siapakah Dia yang berkuasa itu? Tentunya sang Empunya kehidupan. Dialah sang Pencipta dan Pemelihara seluruh dunia dan isinya. Takut kepada Dia Tuhan itulah yang terus diwujud kembangkan. Sebab ketakutan dan hormat kepadaNya akan mendatangkan berkat daripadaNya. Apalagi bukankah kita manusia adalah ciptaan yang termulia? Tercipta sesuai dengan gambarNya.  Umat pilihanNya? 'Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.  Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit'.

'Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.  Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga'. Apakah Yesus mau balas dendam terhadap umatNya? Di mana belaskasihNya yang diagung-agungkan? Kiranya Yesus tidak balas dendam, bila ada yang menyangkal diriNya di hadapan sesama. Bukankah Dia malah mengundang dan mengundang setiap orang untuk datang kepadaNya? Bukankah orang-orang yang berdosa pun diajakNya kembali? Orang yang menyangkal yang dimaksudkanNya adalah dia yang memang tidak mau mengakui dan menerima Anak Manusia. Tawaran yang diberikanNya ditolak dan diabaikannya. Dan tak jarang, penyangkalan akan kasih Allah ditindaklanjuti dengan ketidak perhatiannya kepada sesama. Sebab memang perhatian terhadap sesama yang tidak berlandaskan pada kasih akan Tuhan semata-mata adalah ungkapan emosional saja, dan bukan dari kemurnian hati yang mendalam. Perhatian terhadap sesama bukanlah soal suka atau tidak.

Tentunya dari kita semua tidak ada yang berkeinginan menyangkal dan menolak Dia. Sebab bukankah Dia memberi kehidupan baru kepada kita? Kiranya semangat kita untuk mengamini sabdaNya itulah yang perlu kita kembangkan bersama. 'Inilah aku, utuslah aku' (Yes 6: 8) kiranya menjadi spiritualitas hidup kita dalam mengamini sabda dan kehendakNya dalam keseharian hidup ini.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, lewat sabdaMu hari ini kiranya semakin meneguhkan kami dalam pewartaan akan Engkau, sehingga semakin banyak lagi orang yang dapat mengalami kasihMu dan diselamatkan. Amin

 

 

Contemplatio

'Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah'.

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening