Sabtu dalam Pekan Biasa XVII, 30 Juli 2016

Yer 26: 11-16  +  Mzm 69  +  Mat 14: 1-12

 

 

 

Lectio

Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah.  Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: "Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya."  Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya.  Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: "Tidak halal engkau mengambil Herodias!"  Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi.  Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes,  sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya.  Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: "Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam."  Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara  dan kepala Yohanes itu pun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya.  Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.

 

 

Meditatio

Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah.  Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya 'inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya'. Apakah dia begitu terpesona kepada Yohanes, sehingga berkata demikian? Apakah dia sudah bertobat dan dibaptis oleh Yohanes? Bukan!  Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya. Dia bukannya karena tertarik oleh Yohanes, melainkan karena dia telah berbuat jahat terhadap Yohanes.  Yohanes pernah menegornya, katanya: 'tidak halal engkau mengambil Herodias!'. Marahlah dia, karena teguran itu. Masakah seorang raja ditegur oleh seorang nabi. Teguran yang dirasakan membuat martabatnya turun beberapa puluh persen. Kemarahannya itulah yang membuat Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi.  Melawan nabi berarti melawan rakyat. Itulah yang dikuatirkan oleh Herodes; dan bukankah juga Israel menjadi jajahan Roma? Ketidak berpihakan pada rakyat akan meruntuhkan kursi kerajaan.

Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya.  Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: 'berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam'.  Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara kepala Yohanes itu pun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. Sebuah permainan para penguasa yang selalu bergulat dalam kuasa, harta dan martabat. Adakah martabat kita pertaruhkan dalam berhadapan dengan kejahatan? Apakah kita harus bertahan dalam kejahatan karena reputasi menurun? Setiap orang yang menghadapi sebuah pilihan, memang harus berani meninggalkan yang lain. Orang enggan berkata tidak pada kenyamanan yang telah dinikmatinya. Seseorang takut kehilangan kenyamanan sehingga berat berkata tidak kepada orang lain yang merangkulnya masuk dalam kejahatan yang lebih dalam lagi.

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus. Jeritan orang mati pasti akan terdengar juga oleh Tuhan Yesus sang Empunya kehidupan. Secara lebih konkrit para murid Yohanes melaporkan peristiwa naas yang dihadapi oleh sang guru mereka. Meniadakan hidup seseorang, haruslah dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Bukankah hidup itu milik Tuhan? Kalau kita berani berkata bahwa hidup itu milik Tuhan, maka janganlah kita meniadakan hidup sesama. Hidup adalah hak azazi setiap invidu yang harus dipertanggunjawabkan oleh setiap orang yang menikmatinya. Kejahatan seseorang tidak bisa dibayar dengan merendahkan martabat kehidupan, baik oleh orang yang bersangkutan, atau pun oleh orang lain, ataupun lembaga kemasyarakatan. Hanya orang yang tidak beriman yang mampu mengatakan bahwa hidup ini buatan manusia.

Suatu hari berkatalah para pemuka dan seluruh rakyat itu kepada imam-imam dan nabi-nabi itu: 'orang ini tidak patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah berbicara kepada kita demi nama TUHAN, Allah kita' (Yer 26: 16). Kalau para imam dan nabi-nabi saja mendapatkan teguran dari rakyat tentang hukuman mati yang akan diberikan kepada Yeremia, dan mereka berani mendengarkan suara rakyat, seharusnya para pemimpin negara harus lebih berani mendengarkan kehendak Tuhan yang memang tidak menghendaki setiap orang meniadakan hidup sesamanya.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, berilah kami keberanian untuk berkata benar dengan menyingkirkan keegoisan diri yang membuat kami jatuh dalam dosa dan menyengsarakan orang lain. Bantulah kami ya Yesus agar kami setia pada sabdaMu. Amin

 

 

Contemplatio

Sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening