Selasa dalam Pekan Biasa XIV, 5 Juli 2016


Hos 8: 4-13  +  Mzm 115  +  Mat 9: 32-38

 

 

 

Lectio

Suatu hari dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan.  Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: "Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel."  Tetapi orang Farisi berkata: "Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan." 

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.  Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."

 

 

Meditatio

Suatu hari dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan.  Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Adakah setan yang membisukan? Apakah memang segala penyakit pada waktu itu diakibatkan karena gangguan setan? Mungkin juga bisa, karena bukankah sakit pun disebut sebagai akibat dosa. Namun sang perwira yang kita renungkan kemarin tidak merasakan bahwa hambanya yang sakit itu diganggu oleh setan. Demikian perempuan yang sakit pendarahan juga tidak disebutkan sebagai gangguan dari setan. Namun tak dapat disangkal, Yesus memang berkuasa atas kuasa kegelapan. Hanya Tuhanlah sang Penguasa atas kehidupan ini. Dan baru kali ini orang-orang  melihat sesuatu yang indah dan luar biasa, yang memang belum pernah mereka lihat dan rasakan. Karena itu, heranlah orang banyak, katanya: 'yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel'. Namun orang Farisi berkata: 'dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan'. Entah alasan apa sehingga mereka membuat suatu kesimpulan seperti itu. Apakah memang sering terjadi pengusiran setan sehingga semua peristiwa semacam itu diklasifikasikannya? Atau karena memang peristiwa itu amat menggemparkan, maka mereka berkata-kata seperti itu? Atau memang karena pikiran mereka jahat, sehingga semua dilihat dalam kacamata jahat, termasuk meremehkan sesama? Matius sepertinya tidak menuliskan tanggapan Yesus tentang komentar kaum Farisi. Silahkan mereka boleh berkomentar apa saja, tetapi tak dapat disangkal, Anak Manusia datang untuk menyelamatkan umatNya.

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Pemberitaan Injil memang selalu membebaskan umat manusia dari segala aneka yang membelenggu hidup manusia. Namun apakah sekarang kita masih harus sadar bahwa pewartaan yang sejati itu kalau hanya adanya aneka mukjizat terjadi? Apakah kehadiran Tuhan hanya disampaikan dalam penyertaan mukjizat-mukjizatNya? Bagaimana dengan para pewarta yang tidak mampu mengadakan aneka mukjizat? Bagai orang-orang yang percaya kepada Tuhan Allah, tetapi masih membatasi diri pada aneka mukjizat, kiranya perlu dipertanyakan sejauh mana kemurnian iman, harap dan kasih dalam keseharian hidupnya. Bukankah mengikuti anak Manusia seseorang itu harus berani meneladan Dia yang memikul salibNya demi keselamatan umatNya.

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Mengapa terjadi semacam itu? Bukankah dalam tradisi keagamaan Yahudi telah tertata rapi bagaimana dalam penggembalaan umat Allah? Bukankah para ahli Taurat dan orang-orang Farisi secara sengaja mempunyai kuasa penggembalaan sebagaimana dikatakan bahwa mereka itu duduk dalam kursi Musa? Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: 'tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu'. Para murid diajak untuk selalu berani berdoa dan berdoa memohon kepada Tuhan Bapa di surga agar mengutus para pekerja-pekerja di kebun anggurNya. Mengapa Yesus meminta mereka untuk berdoa, bukankah Dia sudah tahu apa yang menjadi kebutuhan umatNya?

Keberundukan hati umat beriman memang selalu mendatangkan rahmat dan berkat. Apakah Tuhan Allah begitu pamrih? Allah meminta kita umatNya taat dan berunduk hanya kepadaNya, karena memang hanya daripadaNyalah kehidupan dan keselamatan. Walau tak dapat  disangkal Yesus memberi kebebasan setiap orang untuk berani mengamini sabda dan kehendakNya atau tidak. Keselamatan dan sukacita hanya ada dalam Dia Tuhan Allah, dan di luar diriNya adalah kematian dan binasa. Semenjak lama Tuhan selalu mengingatkan umatNya agar selalu mentaati kehendakNya. Pengalaman nabi Hosea yang mendampingi umatNya kiranya menjadi peringatan bagi setiap orang untuk mentaati kehendakNya. Kemauan diri yang tidak disesuaikan dengan kehendak Tuhan sebagaimana tersurat dalam kitab Hosea bab 8: 4-13 akan mendatangkan hukuman dan celaka.

Percayalah kepada Tuhan (Mzm 115), kata-kata inilah yang kiranya hendaknya kita kumandangkan selalu dalam hati dan budi kita.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, perteguh iman kami kepadaMu, bahwa dengan mengamini dan melakukan kehendakMu itu telah menjadi mukjizat dalam hidup kami yang mendatangkan keselamatan pada kami. Kiranya kamipun semakin berani bermohon kepadaMu. Amin

 

 

Contemplatio

'Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan'.

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening