Senin dalam Pekan Biasa XVIII, 1 Agustus 2016

Yer 28: 1-17  +  Mzm 119  +  Mat  14: 13-21

 

 

 

Lectio

Setelah menyingkirlah Yesus dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka.  Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.  Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa."  Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan." Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan." Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku."

Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.

 

 

Meditatio

Suatu hari menyingkirlah Yesus dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi, tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka.  Sepertinya jalan darat lebih singkat dan dekat yang ditempuhNya, tetapi Yesus memilih jalan danau agar tidak diketahui banyak orang. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. Sepertinya kebutuhan hati umatNya mendapatkan perhatian utama dalam karya pelayananNya; yang tentunya bukan kepentingan individu seseorang yang mencari kepuasan diri. Tuhan Yesus tidak akan mengamini segala kebutuhan umatNya yang egois dan mencari menangnya sendiri, sebagaimana kita dengar dalam Injil kemarin.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: 'tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa'. Usul yang baik, dan para murid sadar sungguh bahwa mereka tidak mampu menyuruh banyak orang pulang; mereka merasa tidak berdaya. Apalagi banyak pula orang datang, bukan mencari para murid, melainkan sang Guru. Sang Guru yang berhak dan kiranya mampu menyuruh banyak orang itu pulang.  Tetapi Yesus berkata kepada mereka: 'tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan'.  Yesus meminta para murid ikut bertanggungjawab dalam hal ini.  Jawab mereka: 'yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan'. Tanpa merasa beban para murid menjawab dengan ringannya. Entah bagaimana perasaan dan kepekaan hati mereka ketika berkata-kata semacam itu. Apakah mereka telah memikirkan permintaan Yesus, dan bagaimana mereka harus menanggapiNya? Mengapa harus dikatakan juga, kalau memang hanya sejumlah itu?  Yesus berkata: 'bawalah ke mari kepada-Ku'. Menarik juga. Yesus meminta membawa yang mereka miliki. Yesus tidak memperhitungkan segala kelemahan dan keterbatasan mereka. Mereka diminta membawa segala yang mereka miliki.

Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Yesus tidak banyak berbicara. Semuanya berjalan dengan lurus, dan cepat juga sepertinya. Segala dilakukanNya, karena memang Dia menaruh belaskasih kepada setiap orang yang dikasihiNya. Yesus membuat orang yang lapar kenyang, yang buta melihat, yang tuli mendengar, yang timpang melompat-lompat.

Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. Mengapa hanya duabelas bakul, kalau memang hanya ditepatkan dengan keduabelas suku Israel? Apakah malahan keduabelas suku Israel akan mendapatkan jatah terakhir kelak, sesudah semua orang menikmati pelbagai anugerahNya, terutama keselamatan yang memang hanya dimilikiNya? Bukankah sudah banyak nabi datang dan mereka tidak memperhatikannya? Bukankah kebun anggur itu akan diberikan kepada orang-orang lain, karena mereka itu bagaikan para penggarap kebun anggur yang tidak bertanggungjawab dan tidak tahu berterima kasih? Israel sepertinya menjadi orang-orang yang berdiri di bagian paling belakang untuk menikmati pelbagai anugerahNya, setelah banyak orang makan kenyang, padahal yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. Orang-orang Israel adalah bangsa pilihan, tetapi menjadi bangsa yang terakhir diselamatkan?

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kamipun sering lalai dalam memperhatikan kebutuhan sesama ketika mereka membutuhkan bantuan kami. Bantulah kami, agar kami juga mempunyai hati yang penuh belas kasih seperti Engkau dan peka terhadap lingkungan di sekitar kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan'.  

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening