Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2016

Sir 10: 1-8  +  1Pet 2: 13-17  +  Mat 22: 15-21

 

 

 

Lectio

Suatu hari pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.  Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.  Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"  Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?  Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

 

 

 

Meditatio

Suatu hari pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Kejahatan bersatu dengan kejahatan. Itulah yang terjadi dengan pertemuan mereka. Secara istimewa mereka merangkul orang-orang politikus yang mudah mempermainkan hukum demi kepuasan diri dan kekuasaan yang digandrunginya. Itulah kaum Herodian.

Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya. Kaum Herodian maju sendiri dan tidak menyuruh para murid atau para kader mereka. 'Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka'.  Kata-kata manis yang diucapkan mereka. Basa-basi dan sebuah penipuan kata-kata diabetis, dan kecupan kanan-kiri ala iskariotis Nampak sering terjadi sampai sekarang ini. Kemunafikan hidup yang memuakkan. 'Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?'. Sebuah pertanyaan yang amat dilematis. Mendorong orang untuk membayar pajak berarti bisa dimengerti Yesus mendukung penjajahan Romawi atas Yahudi. Sebaliknya melarang membayar pajak berarti melawan kekuasaan sipil, yang pada waktu itu amat korup yang dilakukan para penjajah.

Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: 'mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?  Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu'. Yesus pasti tahu mata uang yang beredar pada saat itu. Pasti Dia mempunyai maksud tertentu, karena memang Dialah Penguasa kehidupan ini. Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: 'gambar dan tulisan siapakah ini?'.  Jawab mereka: 'gambar dan tulisan Kaisar'. Mana mungkin ada gambar lain yang terpasang dalam mata uang saat itu. Kaisarlah sang Penguasa yang duduk di tahta sosial, politik, hukum dan ekonomi.  Lalu kata Yesus kepada mereka: 'berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah'. Sebuah jawaban yang amat bijaksana. Sebagai anggota masyarakat wajib membayar pajak, yang diperlukan untuk pelayakan kemasyarakatan. Bila memang pada saat itu harus diserahkan kepada sang Kaisar, itulah konsekuensi logis dari ketidakberdayaan pemerintah setempat dalam menjaga dan mengamankan rakyatnya. Namun tak dapat disangkal setiap orang harus berani memberi pertanggungan jawab kepada Tuhan (Rom 14), pertama, karena memang hidup atau mati kita ini milik Tuhan. Hidup adalah sebuah anugerah terindah Tuhan yang diberikan kepada setiap orang, dan kita harus berani mempertanggungjawabkannya. Orang Farisi pada saat itu tetap merasa tersapa, karena memang mereka orang-orang yang duduk di kursi Musa. Kedua, kepadaNya kita harus berani merunduk, karena di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi, dan pada waktunya Ia mengangkat orang yang serasi atasnya. Di dalam tangan Tuhanlah terletak kemujuran seorang manusia, dan kepada para pejabat dikaruniakan oleh-Nya martabatnya (Sir 10: 4-5). Hidup setiap orang berada dalam tanganNya yang penuh belaskasih.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita sebagai warga Indonesia juga sebagai wajib pajak yang setia? Atau malah kita baru gelisah sekarang ini karena tax amnesti? Apakah kita yang tinggal di lingkungan di mana kita berada, mengenal dengan sesama anggota lingkungan? Entah lingkungan Gereja atau lingkungan kemasyarakatan? Pengenalan kita akan orang-orang yang ada di sekitar kita semakin memungkinkan terjadinya negara yang adil, makmur dan damai. Mengapa? Sebab pengenalan akan sesama membuat kita semakin menyatu dalam cita-cita bangsa dan negara Indonesia.

Untuk menjadi warga negara yang baik, Petrus juga menasehatkan: 'hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!' (1Pet 2: 16-17). Petrus mengajak kita semua agar mampu menempatkan diri sebagai anggota masyarakat dan sebagai anggota Gereja. Kita orang haruslah menjadi seorang yang benar-benar katolik dan benar-benar Indonesia.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar mampu menjadi warga negara yang baik, setia dan taat dalam hukum tetapi tidak melupakan hukum cinta kasih yang Engkau ajarkan kepada kami. Mampu mengasihi sesama demi terwujudnya negara kesatuan yang adil, makmur dan damai bagi masyarakat Indonesia. Amin

 

 

Contemplatio

'Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah'.

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening