Jumat dalam Pekan Biasa XIX, 12 Agustus 2016


Yeh 16: 1-15  +  Mzm   +  Mat 19: 3-12

 

 

 

Lectio

Suatu hari datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"  Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?  Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.  Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."  Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.  Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."  Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin."  Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."

 

 

 

Meditatio

'Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?', Tanya orang-orang Farisi kepada Yesus. Mereka bertanya, bukannya karena tidak mengerti, melainkan hanya untuk mencobai Yesus. Mereka bertanya bukan untuk mendapatkan kebenaran, melainkan hanya untuk mencobai Yesus, guna mendapatkan kesalahan daripadaNya.  Jawab Yesus: 'tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?'. Pasti Tuhan Allah mempunyai maksud tertentu. Bukankah perempuan diciptakan oleh Allah yang secara istimewa untuk laki-laki guna menjadi 'penolong yang sepadan dengan dia?' (bdk. Kej 2: 20). Yesus kemudian juga menambahkan:  'laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging; dan dengan demikian mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia'. Memang tak dapat disangkal, pandangan keabadian telah  kuat dikatakan dalam perikop ini, yakni apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Perkawinan adalah persatuan laki-laki dan wanita yang dikerjakan oleh Allah. Kebersatuan ini berarti berlangsung satu kali untuk selama-lamanya. Paham monogami terasa kuat dinyatakan dalam pandangan Matius penulis Injil kita ini.  

'Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?', Tanya mereka yang mulai terbuka matanya. Pada awalnya mereka hanya ingin mencobai, tetapi mata dan telinga hati mereka terbuka secara baru.  Kata Yesus kepada mereka: 'karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian'. Allah tidak menghendaki perceraian. Musa, atau para nabi lainnya, demikian juga komunitas atau lembaga, juga negara tidak mempunyai hak untuk menceraikan siapapun.  'Aku berkata kepadamu',  tegas Yesus,  'barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah'. Apakah karena perzinahan seseorang diijinkan bercerai dan menikah lagi dengan orang? Paham monogami di sini baru ditampakkan, yakni tidak adanya perceraian. Perceraian berarti melawan kehendak dan kemauan Tuhan. Perceraian adalah perlawanan dan pertentangan dengan hukum Tuhan Allah sendiri. Bukan saja seseorang yang bercerai berarti melawan kehendak Tuhan, melainkan bagi orang-orang yang mencari kepuasan diri, mengandalkan diri sendiri dan lupa akan kasih Tuhan, sebagaimana dikatakan nabi Yehezkiel dalam kitabnya (16: 1-15), boleh dan memang harus disebut orang-orang yang melawan kasih Allah.

'Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin', komentar para murid yang merasakan bahwa keabadian perkawinan sungguh-sungguh sulit. Apakah Allah tidak memperhitungkan kelemahan dan keterbatasan insani umatNya? Apakah Allah mempersulit hidup umatNya? Apakah tidak diijinkan untuk membuat solusi mengingat kelemahan dan ketidakmampuan umatNya? Apakah komentar para murid hanya menampakkan betapa umatNya, orang-orang yang dikasihiNya itu banyak yang hanya mencari kepuasan diri? Mendengar komentar mereka, Yesus pun menanggapi dengan berkata:  'tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja'. Yesus tahu bahwa penyataanNya, sabdaNya yang kekal itu, tidak selalu populis, menyenangkan semua orang. Kehendak Allah memang menantang setiap orang untuk berani memilih yang terbaik bagi hidup seluruh umatNya.

Perkawinan adalah sebuah pilihan hidup, yang menandai akan adanya pengenalan satu sama lain. Bukankah di dunia ini banyak orang yang berkehendak baik? Perkawinan adalah sebuah pilihan hidup yang mengandaikan adanya pemahaman satu sama lain, karena sifat perkawinan yang abadi dan kekal. Tak dapat disangkal, ada orang-orang yang tidak terikat dalam suatu hidup perkawinan. Mengapa? Pertama, 'ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya'. Dia tidak mampu memilih hidup perkawinan, karena memang kelemahan insani, seperti keterbatasan genetis dan hormonal. Kedua,  'ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain'. Semua bisa terjadi karena kejahatan umat manusia, yang egois dan mengesampingkan hak-hak azasi manusia. Dan ketiga, 'ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga'. Dia secara sengaja memilih hidup seperti ini karena pengabdian diri kepada Tuhan melalui diri sesamanya. Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus menuliskan: 'orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya. Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya, dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya' (1Kor 7: 32). Paulus menuliskan demikian, karena dia memahami apa yang dimaksudkan oleh Yesus. Paulus menjabarkan maksud Yesus yang menegaskan tadi: 'siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti'.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur Engkau menciptakan kami berbeda satu sama lain dengan panggilan hidup kami masing-masing. Dampingilah kami selalu, agar tetap teguh dan setia dalam menjalankan panggilan hidup kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti'.

 

 





Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012