Kamis dalam Pekan Biasa XVIII, 4 Agustus 2016


Yer 31: 34-37 +  Mzm 51   +  Mat  16: 13-23

 

 

 

Lectio

Suatu hari ketika Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?"  Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi."  Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"  Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.  Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.  Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."  Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias.

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."  Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."

 

 

Meditatio

Suatu hari ketika Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: 'Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?'. Kenapa Yesus bertanya demikian? Pasti Yesus mempunyai maksud tertentu.  Jawab mereka: 'ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi'. Mengapa tidak ada yang menyebut sebagai Musa? Bukankah Musa berada dalam hati banyak umat Israel, karena karya pembebasan yang dikerjakan Allah dengan pengantaraan Musa? Tidak adakah jiwa kepemimpinan dalam diri Yesus? Apakah mereka tidak mampu melihatNya?

'Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!' , sahut Simon Petrus ketika Yesus bertanya kepada mereka: tetapi apa katamu, siapakah Aku ini. Pertanyaan Yesus memang mengandaikan adanya perbedaan dengan pandangan pada umumnya.  Kata Yesus kepadanya: 'berbahagialah engkau Simon anak Yunus, sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga'.  Yesus yang tahu isi hati umatNya pasti tahu apa yang hendak dikatakan umatNya (Mzm 139). Bapa di surga sungguh-sungguh menyatakan semuanya itu kepada para muridNya siapakah sang Guru dari Nazaret ini. Apakah boleh kita tafsirkan bahwa memang Yesus tidak mau menyebutkan diriNya sendiri, melainkan dengan mempergunakan iman kepercayaan para muridNya dengan bertanya siapakah Aku ini? Saya kira sah-sah saja kita berkata demikian. Bukankah banyak orang bertanya 'siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?' (Yoh 1: 22). Yesus tidak pernah menyatakan siapakah diriNya, sehingga banyak orang bertanya tentang diriNya. Pada saat itu juga Yesus tetap melarang murid-murid-Nya memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias.

Mengapa Yesus selalu melarang dan melarang para murid memberitahukan siapakah diriNya? Sebab 'Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN' (Yer 31: 34). Secara kodrati setiap orang mampu mengenal Tuhan Allah, karena memang Tuhan Allah telah menanamkan pengenalan akan diriNya dalam setiap diri umatNya. Simon Petrus dapat mengenal Yesus sebagai Mesias, karena dia menikmati sungguh anugerah indah itu dan malah berani bergaul selalu dengan Yesus Tuhan.  Petrus menikmati hidup dalam pergaulannya dengan Tuhan Yesus sehingga dia mampu mengenal siapakah Orang Nazaret yang selalu bersamanya itu.

'Aku pun berkata kepadamu', tambah Yesus,  'engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.  Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga'. Suatu anugerah yang luar biasa yang boleh dinikmati oleh Simon. Tuhan Yesus benar-benar berkarya dalam dirinya. Allah selalu berkarya dalam diri umatNya, entah itu secara pribadi ataupun bersama-sama sebagaimana umatNya. Iman selalu mendatangkan berkat, bukan saja seperti yang dialami oleh Bartimeus, perempuan yang duabelas tahun pendarahan, atau perempuan Kanaan yang kita renungkan kemarin, malahan membuat kita menjadi sarana Tuhan Allah sendiri berkarya.  

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Yesus menegaskan jalan hidup yang harus ditempuhNya. Cara hidup Yesus inilah yang menjadi Jalan Tuhan (Kis 22: 5), sebagaimana diikuti banyak orang seperti yang diceritakan dalam Kisah Para Rasul. Yesus harus menyerahkan nyawa demi keselamatan seluruh umatNya. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: 'Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau'. Apakah seorang Mesias harus menderita dan dikalahkan oleh orang-orang Israel, bangsa terpilih, dan bahkan semuanya itu akan terjadi di Yerusalem, kota Tuhan? Janganlah itu semua terjadi padaMu, hai Mesias. Mesias adalah Pahlawan keselamatan, maka Dia harus selalu menang dalam setiap perjuangan, dan mampu mengalahkan segala kekuasaan jahat. Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: 'enyahlah iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia'. Suatu teguran yang amat keras diberikan Yesus kepada Petrus. Petrus dipuji, karena mengutamakan kehendak Tuhan Bapa di surga, tetapi dikecam habis-habisan olehNya, bahkan seperti iblis, bila mengikuti kemauan manusia yang tidak mau memanggul salib kehidupan.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, beri kami hati yang mudah untuk mengampuni dan mengasihi dalam kehidupan kami, agar kelak kamipun mendapatkan pengampunan dan menikmati kasih surgawi bersamaMu. Amin

 

 

Contemplatio

'Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga'.

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening