Minggu dalam Pekan Biasa XIX, 7 Agustus 2016

Keb 18: 6-9  +  Ibr 11: 8-12  +  Luk 12: 35-40

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus berkata kepada para muridNya: 'hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.  Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka.  Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka.  Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan."

 

 

Meditatio

'Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala', penegasan Yesus kepada para muridNya. Pinggang tetap berikat dan pelita tetap menyala  adalah tanda keseriusan seseorang dalam berjaga, dan menghadapi segala sesuatu yang akan terjadi. Terlebih datangNya sang Empunya kehidupan dalam segala peristiwa kehidupan. 'Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan'. Khusus akan kehadiran Tuhan Allah, kita harus bersiap siaga selalu, kita harus selalu berjaga, bagaikan seorang tuan rumah yang tidak tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Kehadiran Tuhan setiap saat bisa terjadi tanpa persetujuan kita manusia, malahan Dia datang dan akan hadir dalam peristiwa-peristiwa yang tidak kita perhitungkan dan kita harapkan. Allah hadir di luar kemampuan insani kita. Dia datang sekehendak hatiNya, tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepada kita.

Kita hendaknya selalu berjaga dan berjaga dalam hidup ini. Kita harus sedia payung sebelum hujan. Kita harus siap sedia menghadapi segala kenyataan, terlebih tentunya terhadap aneka peristiwa yang tidak kita harapkan. Berjaga-jaga adalah sebuah ungkapan metaforis yang mengajak kita untuk selalu siap sedia, stand by  dalam menghadapi segala kenyataan hidup ini. Bukan hanya dengan kesiapan diri, melainkan juga dengan mengandalkan kekuatan dari Tuhan sendiri. Karena itu Yesus menganjurkan: 'berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa' (Luk 21: 36).

Berjaga dan selalu siap sedia akan kehadiran Tuhan yang memang tidak kita ketahui kapan,  di mana, dan bagaimana  Dia hadir, mengandaikan adanya keinginan dan kerinduan akan Tuhan Allah sendiri. Berjaga-jaga adalah suatu beban yang amat berat dan membosankan, bila memang tidak ada kerinduan sedikit pun diri kita akan kehadiranNya. Sebaliknya, adanya kerinduan hati akan kehadiranNya membuat setiap orang untuk selalu berjaga akan kehadiranNya. Yesus memuji bahagia orang-orang yang selalu berani berjaga. 'Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang'. Sebuah sukacita yang terlukiskan bagai seorang tuan rumah yang ketika datang dan mengetuk pntu, pintu langsung dibuka. Betapa bahagia sang tuan rumah yang selalu menjumpai para hambanya bekerja sebagaimana mestinya.

'Aku berkata kepadamu: sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka'. Suatu penyataan yang amat mengagetkan tentunya. Namun itulah kenyataan dari Tuhan Allah, bahwasannya orang yang berani dan setia berjaga-jaga akan mendapatkan pelayanan dan kasih dari Tuhan Allah sendiri. Allah tidak segan-segan melayani dan memperhatikan umat yang berseru-seru kepadaNya. Allah bagaikan seorang tuan rumah yang akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan para hambanya duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka.

Kita tentunya adalah orang-orang yang selalu berjaga-jaga dalam keseharian hidup kita. Mungkin kualitas jaga kita saja yang berbeda satu dengan lainnya. Petama, kiranya Injil hari ini mengajak kita untuk semakin bersemangat dalam berjaga-jaga sambil berdoa dalam keseharian hidup ini. Orang yang berani berjaga-jaga sambil berdoa adalah mereka yang ingin menjadi orang-orang yang kaya juga di hadapan Tuhan. Kedua, apakah kita masing-masing merasakan pelayanan Tuhan bagi diri kita atau keluarga kita? Pelayanan khas apa yang diberikan Tuhan kepada diri kita? Atau malah sebaliknya, kita berani malah berkata saya tidak merasakan pelayanan Tuhan?  Orang yang merasakan pelayanan Tuhan adalah dia yang memang setia  berjaga dalam hidup ini, dia pula akan dengan mantabnya menyanyikan lagu yang dikumandangkan pemazmur hari ini bahagia kuterikat pada Yahwe, harapanku pada  Allah Tuhanku (Mzm 33).

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah kami menjadi orang-orang yang setia dalam berjaga. Sebab kami ingin mendapatkan pelayanan daripadaMu yang membahagiakan hidup ini. Hanya dalam pelayananMu sendiri, kami dapat menikmati hidup ini dengan penuh syukur. Amin.

 

 

Contemplatio

'Aku berkata kepadamu: sesungguhnya Dia, Tuhan akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka'.

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening