Pesta santo Laurentius, 10 Agustus 2016


2Kor 9: 6-10  +  Mzm 112  +  Yoh 12: 24-26

 

 

 

Lectio

Suatu hari bersabdalah Yesus: 'Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa'.

 

 

 

Meditatio

'Aku berkata kepadamu: sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah'. Sebah penegasan Yesus kepada para muridNya, orang-orang yang percaya kepadaNya. Janganlah kita menilai perumpamaan itu, seperti: mengapa biji harus mati? Bukankah biji itu tetap hidup? Bukankah kalau mati dia tidak akan tumbuh? Yang jelas biji itu harus ditanam, maka dia akan tumbuh dan berkembang. Itulah sebuah pernyataan. Seperti biji gandum, demikianlah  'barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal'. Orang yang takut berkurban memang tidak layak bagi Kristus. Dia tidak akan mendapatkan keselamatan kekal. Mengikuti Kristus bukanlah memang untuk bersenang-senang, atau duduk manis tidak melakukan kegiatan ini dan itu, atau memang tidak menaruh perhatian kepada Tuhan, karena sudah merasa cukup dengan mengaku sebagai murid Kristus. Kalau itu semua yang dilakukan memang, dia berarti mencintai nyawanya, mencari kenyamanan diri, dan tidak mau memanggul salib kehidupan.

Beriman kepada Kristus berarti menjabarkan diri pribadi, sebagai orang yang tidak percaya pada kekuatan insani. Dia malah percaya segala kelemahan insani yang dimiliki itu disempurnakan oleh kepercayaannya akan kekuatan ilahi, yakni kekuatan yang berasal dari Allah yang dipercayainya. Bahkan dia berani membuktikan bahwa kepercayaannya itu sungguh benar dan terbukti, bukan dengan beradu argument, melainkan menunjukkan bahwa dirinya mampu membuktikan kasih Allah itu dengan perhatian kasih dirinya terhadap sesama, orang-orang yang di  sekitarnya. Pembuktian inilah yang memang tak jarang mengalami perlawanan dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Pembuktian inilah kerelaan diri untuk menyerahkan nyawa demi kebenaran yang dipercayainya.  

'Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa'.  Inilah hal terindah yang diperoleh oleh setiap orang yang mau melayani Yesus Kristus sang Empunya kehidupan. Melayani Kristus berarti melayani Dia yang hadir dalam diri sesame kita. Inilah yang diperjuangkan dan akhirnya dinikmati oleh santo Laurentius dengan mahota kemartiran yang diterimanya. Kita pun pasti dapat menikmati mahkota kehidupan itu, bila kita kedapatan setia sampai akhir hidup.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur kasihMu yang begitu besar di dalam hidup kami. Ajarilah kami selalu untuk membuktikan cinta kasih dalam relasi kami dengan orang-orang yang ada di sekitar kami.

 

 

Contemplatio

''Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa'. 

 

 

 

Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012