Sabtu dalam Pekan Biasa XX, 27 Agustus 2016

1Kor 1: 26-31  +  Mzm 33  +  Luk 7: 11-17

 

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong.  Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu.  Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!"  Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!"  Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya.  Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: "Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita," dan "Allah telah melawat umat-Nya." Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

 

 

Meditatio

Yesus menyerahkan anak muda itu kepada ibunya, setelah Yesus menghidupkan kembali anak itu dengan berkata: 'hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!'. Anak muda itu benar-benar hidup kembali. Setelah penyataanNya itu bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata. Dia bergerak dan berkata-kata karena memang dia hidup kembali. Yesus tidak berkata karena iman ibumu, pergilah dan pulanglah, melainkan Yesus menyerahkan anak muda itu kepada ibunya. Yesus tidak menyerahkan kepada bapaknya, karena memang sang ibu adalah seorang janda. Predikat janda membuat dan hendak menyatakan  ibu adalah seseorang yang setia mendampngi anak-anaknya, menjaga kepercayaan yang diberikan Tuhan kepada keluarga yang merawat dan membimbing sang buah hati.

Mengapa Yesus membangkitkan anak janda itu? Apakah karena dia masih produktif, maka tidak boleh terpotong masa hidupnya? Kalau misalnya sang ibu janda itu yang meninggal dan diantar oleh anak muda, apakah Yesus membangkitkan sang ibu? Namun kiranya menjadi permenungan kita semua, ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: jangan menangis, kemudian membangkitkan anak muda itu. Ketiadaan seseorang yang dikasihi seperti akan menjadi beban sang ibu janda daripada anak muda itu. Kasih Tuhan seperti lebih terarah kepada mereka yang lebih membutuhkan uluran tangan sesamanya. Sang janda lebih mendapat perhatian Tuhan daripada anak muda, karena sang ibu janda itu mewakili 'apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,  dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah' (1Kor 1: 29), sebagaimana dikatakan Paulus.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, hatiMu selalu terarah kepada mereka yang kecil dan lemah, kiranya kamipun semakin berani dalam bersikap seperti Engkau, mempunyai hati yang berbelas kasih terhadap sesama tanpa membedakan satu sama lain. 

Santa Monika, doakanlah kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: jangan menangis'.

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening