Selasa dalam Pekan Biasa XVIII, 2 Agustus 2016

Yer 30: 12-22  +  Mzm 102  +  Mat  14: 22-36

 

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.  Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.  Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.

Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.  Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut.  Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"  Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air."  Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!"  Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"  Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah."

Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret.  Ketika Yesus dikenal oleh orang-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Maka semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya. Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

 

 

 

Meditatio

Suatu hari Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Mengapa Yesus menyuruh mereka pergi terlebih dahulu? Apakah mereka diminta mempersiapkan kedatanganNya, sebagaimana pernah dilakukan terhadap ketujuhpuluh murid yang diutusNya pergi berdua-dua? Apa memang Yesus sengaja mau memisahkan para murid dari kerumunan banyak orang, agar mereka tidak merasa berjasa karena telah membagikan makanan kepada banyak orang?  Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Mengapa Yesus tidak pernah mengajak para muridNya berdoa bersama? Apakah karena memang Yesus itu Tuhan, maka Dia tidak pernah mengajak para muridNya berdoa bersama? Apakah karena mereka sudah berkomunikasi denganNya setiap hari maka tidak diajakNya lagi berdoa bersama? Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.  Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Sebuah kenyataan yang berbeda satu dengan lainnya; yang satu mengalami ketenangan dan kedamaian, sedangkan yang lain mengalami aneka rintangan.

Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Yesus berkuasa atas alam semesta. Dia tidak terikat oleh aturan alam. Yesus Tuhan mengatasi ruang dan waktu. Dia mempunyai tubuh seperti kita, tetapi tidak terikat ruang dan waktu; yang memang terungkap secara nyata setelah Dia bangkit dan hidup di tengah-tengah para muridNya. Tentunya kita ingat waktu Yesus menampakkan diri ketika para murid berkumpul di rumah yang terkunci rapat.  Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: 'itu hantu!', lalu berteriak-teriak karena takut.  Segala yang menakutkan memang terarah kepada kuasa kegelapan, apalagi terjadi pada kondisi gelap. Sebaliknya, kuasa Allah selalu membahagiakan.  Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: 'tenanglah! Aku ini, jangan takut!'. Yesus menenangkan, karena dalam Dia ada kehidupan dan kedamaian. Tuhan tidak menakutkan, walau tak dapat disangkal hanya kepada Dia yang mampu membinasakan jiwa dan badan, setiap ciptaan harus berani merunduk dan bersembah.  

Petrus berseru dan menjawab Dia: 'Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air'. Petrus memang adalah seorang pemberani. Seorang agresif yang menantang siapapun untuk memberi tanda kepadaNya.  Kata Yesus: 'datanglah!'. Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Simon Petrus memang ingin menikmati segala yang dimiliki Tuhan Yesus sang Guru. Biarkanlah kami dirikan tenda, satu untuk Engkau, satu untuk Elia dan satu lagi untuk Musa. Itulah kata Petrus ketika Yesus menyatakan kemuliaanNya di gunung. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam. Keteguhan hati memang amatlah menyatu dengan iman kepercayaan. Lalu berteriak dia: 'Tuhan, tolonglah aku!'. Simon Petrus mengakui ketidakberdayaan dirinya.  Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: 'hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?'. Teguran sama kiranya juga akan disampaikan Yesus kepada Tomas yang meminta tanda bahwa Yesus hidup.  Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun redalah. Ada bersama Yesus segalanya indah adanya. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: 'sesungguhnya Engkau Anak Allah'. Para murid merenungkan iman kepercayaannya kepada Yesus, yang adalah Tuhan Allah. Dia adalah anak Allah, karena memang Dia adalah Allah yang menjadi Manusia.

Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret.  Ketika Yesus dikenal oleh orang-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Maka semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya. Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh. Kita dapat membayangkan bagaimana situasi pada waktu itu.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kamipun sering bimbang dan goyah imannya ketika sedang menghadapi masalah. Teguhkanlah iman kami kepadaMu ya Yesus, bahwa Engkau selalu mendampingi dan menyertai kami, karena hanya di dalam Engkau ada kedamaian dan kehidupan. Amin

 

 

Contemplatio

'Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?'.

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening