Jumat dalam Pekan Biasa XXIII, 9 September 2016


1Kor 9: 16-19  +  Mzm 84  +  Luk 6: 39-42

 

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: "Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?  Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?  Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

 

 

Meditatio

 'Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?', tegas Yesus. Benar juga yang dikatakan Yesus. Bukankah seseorang yang tidak mempunyai tidak dapat memberi? Nemo dat quod non habet? Seseorang yang ingin maju dalam aneka bidang kebaikan tentunya dia harus berani bergaul dengan mereka, orang-orang yang baik dan benar. Seseorang yang tenggelam dalam kehidupan sehari-hari dan tidak mau memandang keluar dari hidup kesehariannya, tentunya juga tidak akan mendapatkan apa-apa. Keberanian seseorang untuk belajar dan belajar tentang kehidupan ini, akan membuat seseorang berkembang dalam kehidupan. 'Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya'. Kemauan belajar seseorang akan membuat dirinya sama dengan dia yang membantunya belajar.

Keberanian kita belajar dari Tuhan Yesus akan membuat kita sama dengan Tuhan Yesus? Kita akan sama dengan Dia memang, walau kita tidak bisa menjadi Dia. Bukankah Yesus sendiri pernah mengatakan hendaknya kamu sempurna seperti Bapa di surga sempurna? Kita malah diundang untuk berani penuh belaskasih seperti Tuhan Yesus sendiri, yang menerima setiap orang yang datang kepadaNya, bahkan Dia sendiri berani mendatangi kaum berdosa dan mereka yang disingkirkan dari masyarakat. Keberanian kita percaya dan belajar dari Yesus Tuhan akan membuat kita menjadi orang besar. Yesus sendiri mengatakan: 'Aku berkata kepadamu: sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu' (Yoh 14: 12).

'Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?  Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu'. Orang munafik memang orang yang amat defensive. Untuk menutupi kekurangan dan kelemahan diri, dia akan mencari-cari kesalahan sesamanya. Dia tahu kesalahan dan kelemahan diri, tetapi dia mengakui dan hendak mengatakannya dengan memakai pribadi orang lain yang dikenalnya. Dia tidak segan-segan mencaci-maki kesalahan dirinya dalam diri sesamanya. Orang lain dikurbankan di hadapan banyak orang. Dia bahkan tidak segan-segan mempersalahkan Allah, dan menuduh Allah tidak adil, tidak penuh belaskasih, dan Allah itu kejam, karena memang dirinya sedang dalam kerapuhan diri dan tak berdaya. Dia mengata-ngatai Allah, karena dia tidak mempu menerima keberadaan diri yang lemah dan tak berdaya; walau tak dapat disangkal, semua bisa terjadi karena bukan kesalahan diri pribadi. Sebaliknya orang yang sadar akan kerapuan diri, dia akan berani berharap dan meminta tolong, bahkan berani belajar dari sang Empunya kehidupan ini. Tak jarang, orang yang sadar akan kerapuan diri, dia akan belajar dan belajar, bagaikan mengikuti pertandingan laga guna mendapatkan mahkota, yang mana belajar daripadaNya akan mendaptkan mahkota abadi (1Kor 9).

 

 

Oratio

Ya Yesus, ajarilah kami untuk semakin hari semakin menyadari keterbatasan diri. Keberanian untuk mengakui diri akan membuat kami semakin berani meminta pertolongan daripadaMU, sebab hanya daripadaMulah, kami medapatkan pertolongan yang sesungguhnya. Amin.

 

 

Contemplatio

'Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya'.

                                            



 

Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012

Sabtu Hening