Peringatan Maria berdukacita, 15 September 2016


1Kor 15: 1-11  +  Mzm 31  +  Yoh 19: 25-27

 

 

 

Lectio

Pada waktu itu dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.  Ketika Yesus meihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

 

 

Meditatio

Pada waktu itu dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Inilah perempuan-perempuan yang begitu setia. Mereka ikut serta dalam peristiwa salib. Hati seorang ibu, yang pernah dikatakan sebilah pedang akan menembuh jiwamu (Luk 2), semakin terbukti nyata sekarang ini. Dalam perjalanan hidupnya saja Maria banyak harus menanggung beban aneka karya pelayanan sang Putera, yang antara lain sempat dikatakan sebagai seseorang yang tidak waras, kini dengan mata kepalanya sendiri melihat sang Buah hati bergantung di kayu salib. Hati Maria benar-benar harus berduka, dan bahkan tertusuk sebilah pedang tajam, karena duka sengsara yang harus dijalani oleh sang Puteranya.

Ketika Yesus meihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: 'ibu, inilah, anakmu!'. Maria diminta untuk memandang Yohanes. Maria diminta untuk menerima dia sebagai anaknya. Ada sesuatu yang harus disempurnakan dalam diri Yohanes, maka Maria diminta mendampinginya. Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: 'inilah ibumu!'. Yohanes diminta untuk berani memandang Maria, dan menerimanya sebagai seorang ibu. Maria diminta mendampingi Yohanes, karena Maria telah mampu mengikuti sang Putera dengan sempurna. Yesus sang Anak melihat Maria sebagai seseorang yang sempurna dalam mengikuti diriNya. Yohanes diminta menerima Maria dan diminta belajar daripadanya, sebab Maria adalah sosok pendengar sabda dan pelaksana. Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Maria begitu setia kepada sang Putera, karena dia tahu siapakah Dia yang diikutinya, siapakah yang disertainya sampai akhir hidupNya. Ketika di bawah salib, Maria memandang Yesus, manusia memandang Allah. Maria dengan setia mengikuti Yesus Kristus sampai akhir jaman. Maria memang tidaklah mengandalkan diri dalam mengikuti sang Putra. itulah yang diteladan juga oleh Paulus, sebagaimana ditulisnya dalam surat pertama kepada umat di Korintus. Semuanya aku lakukan, tetapi bukan karena aku, melainkan karena kasih karunia yang menyertai aku (1Kor 15: 10).

 

 

 

Oratio

Yesus Kristus, ibuMu begitu setia dalam mengikuti Engkau. Dia tidak takut salib dan aneka komentar dari banyak orang tentang siapakah Engkau. Maria begitu setia. Bantulah kami selalu juga agar kami kedapatan setia seperti dia.

Ya Maria, doakanlah kami selalu. Amin.

 

 

 

Contemplatio

'Ibu, inilah, anakmu!'.

 





Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012