Pesta Santo Albertus dari Yerusalem, 17 September 2016


1Kor 15: 42-49  +  Mzm 56  +  Luk 8: 4-15

 

 

Lectio

Pada waktu itu ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan:  "Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat." Setelah berkata demikian Yesus berseru: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu.  Lalu Ia menjawab: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.  Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah.  Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.  Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.  Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.  Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."

 

 

Meditatio

Pada waktu itu ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus. Mereka datang karena memang hendak mendengarkan sabdaNya yang penuh wibawa dan kuasa. Banyak orang ingin mendengarkanNya. Berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan: 'adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat'. Tentunya amat mudah dimengerti perumpamaan itu. Tidak sulit masuk akal, karena disampaikan kepada mereka, yang sesuai dengan alam budaya mereka. Setelah berkata demikian Yesus berseru: 'siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!'. Yesus meminta para muridNya mendengar dan memahaminya sungguh. Mendengar dengan baik menjadi tanda awal bagi setiap orang yang mau terbuka dan berubah untuk hidup lebih baik lagi.

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu. Ternyata perumpmaan yang mudah itu tidak dimengerti juga. 'Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti'. Karunia memang sering dimengerti banyak orang sebagai pemberian yang enak didengar dan bahkan dilihat; semua menyenangkan insani dan berdampak pada yang ragawi. Banyak orang belum mengerti, bahwa keberanian mendengar dan mendengar akan mendatangkan karunia untuk semakin memahami kehendak Tuhan Allah sendiri. Karuna untuk memahami rahasia Kerajaan Allah sepertiya kurang mendapatkan perhatian banyak orang.   

'Inilah arti perumpamaan itu', kata Yesus mulai menerangkan arti perumpaan itu, 'benih itu ialah firman Allah'. sabda selalu disampaikan kepada seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Mengapa? Karena Allah menghendaki semua orang beroleh selamat.  'Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah  orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan'. Sepertinya sabda yang didengarkannya itu masuk telinga kiri keluar kanan saja, dan tidak sempat melekat sedikitpun. Tidak ubahnya,  mereka itu tidak pernah mendengarkan apapun.  'Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad'. Sabda Tuhan sekedar pengetahuan yang mungkin hanya masuk dalam pikiran, tetapi tidak menjadi milik pribadi.  'Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang'. Sabda Tuhan tidak menjadi kekuatan sedikitpun, malahan aneka persoalan yang menghantui membuat diri seseorang tak tahan berdiri dalam realitas social yang ada.  'Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan'. Sabda Tuhan tidak berhenti di alam pikiran, melainkan merasuk dalam hati dan malah menggetarkan jiwa dan menggerakkan hidup menatap masa depan yang indah.

Hanya kesetiaan yang akan membuat kita menjadi tanah yang subur. Sebab Dia sang Penabur benih tidak akan tinggal diam, bila yang ditaburkan itu jatuh di pinggir jalan, atau tanah berbatu, ataupun penuh semak duri. Sang Penambur akan memperhatikan sabda yang memang ditaburkan demi keselamatan umatNya. Keberanian kita mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya akan membuat diri kita semakin hari semakin rohani. Kita akan mempunyai banyak keilahian diri. Menurut Paulus kita akan semakin mpemunyai tubuh rohani dalam kesaharian kita (1Kor 15). Kita tetap berdiri pada kedua kaki kita. Kita akan tetap makan dan minum. Kita tetap bisa berjalan atau berlari, dan panas terik matahari serta guyuran hujan tetap akan menerpa kita semua. Kita siap menghadapi gelora kehidupan apapun bentuknya, dan tetap beridiri. Mengapa? Karena kita tidak hanya bertumpuh pada tubuh jasmani yang fana, melainkan kita memakai tubuh rohani. Santo Albertus dari Yerusalem adalah salah seorang penggemar sabda Tuhan dalam keseharian hidupnya. Semua itu tampak dalam tulisan Regula yang diberikan kepada para karmelit yang hendak menghayati kehidupan bersama dalam mengabdi Allah.

 

 

Oratio

Yesus Kristus, jiwailah kami dengan sabdaMu, agar kami setia dalam menghadapi aneka pencobaan dan kekuatiran hidup. Semangatiah kami untuk menjadi tanah yang subur, sebab hanya dengan bantuanMu kami akan dapat menghasilkan banyak buah.

Santo Albertus dari Yerusalem, doakanlah kami. Amin.

 

 

 

Contemplatio

'Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan'.

 

 




Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012