Rabu dalam Pekan Biasa XXIII, 7 September 2016

1Kor 7: 25-31  +  Mzm 45  +  Luk 6: 20-26

 

 

 

Lectio

Pada waktu itu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.  Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.  Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.

Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.  Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu."

 

 

Meditatio

'Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah', tegas Yesus kepada para muridNya. Apakah Yesus menghendaki para muridNya tetap tinggal diam dalam kemiskinan? Demikian juga, 'berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan'. Bagaimana kita harus mengatakan kepada mereka yang kelaparan bahwa mereka adalah orang-orang yang berbahagia? 'Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa'. Sungguh tegakah kita untuk mengatakan kabar sukacita bagi mereka yang lagi berduka, apapun alasannya, bahwa memang layak berduka, karena mereka nanti akan bersukacita? 

'Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat'. Kiranya sabda inilah yang baru membuat kita sedikit mengerti, bahwasannya karena Kritus Tuhan kita, akan banyak mendapatkan tantangan, dan lebih malahan petaka dan derita karena pengenalan akan Kristus. Orang harus berani menderita, menangis dan lapar, bila berjalan memanggul salib kehidupan ini. Orang harus berani meminta-minta  bantuan dari Tuhan, yang tak ubahnya seorang yang miskin dan tak berdaya, dan berharap akan belaskasih Allah.

Yesus memuji orang-orang miskin, karena memang hanya merekalah yang mengandalkan kekuatan dari Tuhan. Sebaliknya, 'celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu'. Mereka tidak lagi membutuhkan bantuan siapun juga. Bukankah mereka sudah mendapatkan pemenuhan atas segalanya? Apa yang kurang bagi orang-orang yang sudah kaya? Demikian juga, 'celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang', sebab memang mereka tidak ada lagi yang hendak diharapkan. Apalagi yang hendak dimakan bagi orang yan sudah kenyang? 'Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa', karena semua sudah terpuaskan. Mereka tertawa dan tertawa, karena memang tidak ada kemauan untuk menoleh mereka yang menderita dan bersengsara. Jikalau mereka mau berbelarasa, tentunya mereka tidak akan tertawa, malah akan balik melempar senyum kepada saudara dan saudarinya yang menderita guna memberi penghiburan kepada mereka.

'Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga'. Janji ini benar-benar membahagiakan bagi setiap rang yang memang berani memanggul salib kehidupan ini. Mereka tidak gelisah dan kuatir, bila harus lapar dan menderita. Mereka yakin dengan menjadi miskin dan terus-menerus meminta dan meminta bantuan dari Tuhan sang Empunya kehidupan, mereka akan mampu menikmati kemuliaan surgawi, dan di dalam perjalanan di dunia sukacita hati menjadi penghiburan tersendiri.

 Kemiskinaan atau kekayaan, lapar atau kenyang, menderita atau tertawa, tak dapat disangkal memang bisa membuat kita terikat dan terikat akan dunia ini. Kita malah ingin menguasai segala sesuatu, karena kemiskinaan atau kekayaan, lapar atau kenyang, menderita atau tertawa. Kalau Paulus mengingatkan kita dengan berkata: 'dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri;  dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli;  pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu' (1Kor 7: 29-31), diiaksudkan bukan untuk menjadi orang-orang yang tak bertanggunjawab dan melupakan diri, melainkan agar kita tetap mengandalkan Tuhan dalam segala jenis langkah kehidupan. Bukankah Yesus kemarin juga mengingatkan kita barangsiapa mengasihi orangtua dan anak-anak lebih daripadaKu, dia tidak patut menjadi muridKu (Mat 10). Tuhan Allah harus kita utamakan dalam hidup ini, segala yang ada di dunia ini dapat mengikat kita, entah yang manis atau pahit, entah suka ataupun duka. Semua tetap kita akan nikmati, tetapi sungguh indah kalau kita hanya mengandalkan Tuhan Yesus di atas segalanya.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami begitu mudah terikat dengan segala keindahan ataupun kepahitan di dunia ini. Kami mengalami semuanya itu, karena keegoisan diri kami ini. Ajari kami, ya Yesus, untuk semakin berani berpasrah kepadaMu. Memohon bantuan dan kasihMu agar kami senantiasa dapat melangkahkan kami ke masa depan dengan lebih semangat dan penuh harapan. Amin.

 

 

 

Contemplatio

'Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah'.

 

 



Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012

Sabtu Hening