Minggu dalam Pekan Biasa XXVII, 2 Oktober 2016


Hab 1: 2-4  +  2Tim 1: 6-14  +  Luk 17: 5-10

 

 

 

Lectio

Pada suatu kali kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!"  Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu. Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!  Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?  Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

 

 

 

Meditatio

'Tambahkanlah iman kami!'. Itulah permintaan para rasul kepada Yesus. Mengapa mereka memintanya? Apakah mereka sadar sungguh akan kelemahan dan keterbatasan dirinya? Apakah memang juga sadar akan lemahnya iman yang mereka miliki?  Jawab Tuhan: 'kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu'. Mendengar pertanyaan mereka, Yesus malah menegaskan betapa rendahnya memang kualitas iman mereka. Padahal, Yesus malah menegaskan kepada mereka betapa besar kekuatan iman  dalam kehiduapan sehari-hari. Iman manjadikan segala yang tidak mungkin menjadi mungkin, dan membuat segala-galanya indah adanya.

Sebaliknya, apakah seseorang yang mampu melakukan aneka mukjizat itu berarti mempunyai iman yang tangguh? Mungkin! Namun tak dapat disangkal memang anugerah Tuhan diberikan kepada setiap orang tanpa terkecuali. Tuhan Allah tidak pernah memandang muka dalam berbagi aneka karuniaNya. Dia hanya meminta segala kebaikan yang diberikanNya itu untuk semakin mengajak orang untuk berani merundukkan diri di hadapan Tuhan. Janganlah teguran Yesus kepada Korazim, Betzaida, serta kepada Kapernaum: 'engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati!' (Luk 10: 15) juga dikenakan kepada kita, karena ketidakmauan untuk bertobat dan bertobat. Allah memberikan segala yang baik agar stiap orang semakin menyadari kasih Tuhan, dan berani merundukkan diri di hadapanNya. Malah segala anugerah yang dilimpahkan oleh Tuhan Allah adalah untuk membangun  umat Allah (Rom 12). Allah memberi kita agar kita pun ikut berani berbagi dengan sesame.

'Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: mari segera makan!  Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum; dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?'. Sebuah perumpamaan yan amat mudah dimengerti. Relasi sosial dalam hidup bersama memang harus diterima oleh setiap orang yang tinggal di dalamnya.  'Demikian jugalah kamu', tegas Yesus kepada para rasulNya,  'apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan'. Yesus meminta para murid, dan kita semua, agar berani melaksanakan segala tugas dan panggilan kita. Apa yang menjadi pekerjaan keseharian, mari kita lakukan dengan sebaik mungkin. Itulah memang yang harus kita pertangungjawabkan. Sekaligus, Yesus meminta kita untuk tidak menuntut balas ucapan terima kasih bila memang kita telah melakukan segala sesuatu. Apa yang kami lakukan itulah tugas kewajiban kami. Penyataan Yesus juga menunjuk, bahwasannya seseorang yang mempunyai iman sejati akan selalu tetap rendah hati terhadap sesamanya.

Yesus secara sengaja mengingatkan hal ini, karena memang orang yang benar-benar menghayati imannya, walau dia mampu melakukan segala yang menakjubkan, tetap rendah hati. Dia sungguh sebagai orang yang hidup benar, karena imannya (Hab 2: 4), yang menjiwai hidupnya. Itulah yang diingatkan oleh Habakuk dalam bacaan kita hari ini; sekaligus tegas Paulus kepada Timotius: 'janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita, ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah' (2Tim 1: 8). Iman bukan untuk kita sembunyikan, melainkan harus kita tampakkan dalam hidup sehari-hari.

 

 

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, kami bersyukur kepadaMu, karena kami Engkau ijinkan mengenal Engkau. Engkau pun memperkaya kami dengan pelbagai anugerah daripadaMu. Semoga semua itu kami nikmati dengan penuh syukur. Amin.

 

 

 

Contemplatio

'Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan'.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening