Rabu dalam Pekan Biasa XXVII, 5 Oktober 2016


Gal 2: 1-14  +  Mzm 117  +  Luk 11: 1-4

 

 

 

Lectio

Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: "Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya."  Jawab Yesus kepada mereka: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.  Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya  dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."

 

 

 

Meditatio

Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Mengapa Yesus berdoa seorang diri, dan mengapa Dia tidak pernah mengajak para murid berdoa bersama? Apakah selalu bersama dengan sang Guru, kita tidak perlu berdoa, sebagaimana yang memang tidak pernah diajarkan kepada para muridNya?  Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: 'Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya'. Para murid Yohanes perlu berdoa, karena memang mereka tidak selalu bersama Yesus Tuhan. Mereka hanya bersama Yohanes. Demikian pula para murid komunitas orang-orang Farisi.  

'Apabila kamu berdoa, katakanlah', tegas Yesus kepada para muridNya: 'Bapa, dikuduskanlah nama-Mu'. Yesus tidak mengajak para muridNya menyebut Tuhan, melainkan Bapa. Sebab memang Tuhan Allah kita adalah Bapa yang penuh belaskasih. Dia tidak jauh di sana, Dia ada dan menyertai dan memperhatikan. Dia memang bagaikan seorang Bapa yang memperhatikan anak-anakNya.  'Datanglah Kerajaan-Mu'. Apakah yang dimaksudkan dengan Kerajaan milik Bapa? Apakah seperti bayangan kita tentang kerajaan yang ada dalam sejarah? Minimal kita pahami adanya keinginan biarlah Bapa sendiri yang meraja dan menguasai hidup kita. Sebab hanya dalam kuasaNya kita akan beroleh selamat, dalam kuasaNya kita akan menikmati yang indah dan menyenangkan.  'Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya'. Cukup makan sehari-hari akan membuat hati tenang dan damai, karena memang makan adalah kebutuhan yang paling mendasar. Adanya makan sehari-hari sudah membuat kita penuh syukur dan terima kasih. Adanya makanan mengingatkan kita bahwa Tuhan tetap memperhatikan dan mengasihi umatNya. 'Ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami'. Pengampunan dari Tuhan memang amatlah kita harapkan, karena memang dosa-dosa diri seringkali mengelabui mata dan telinga; membuat seseorang tidak peka lagi dosa dan menenggelamkan seseorang ke dalam egosime diri yang amat hebat. Namun kita yakin Tuhan Bapa di surga itu maharahim, dan kita pun akan membagikan damai hati itu dengan siap memaafkan kesalahan sesama. Keindahan pengampunan benar-benar kita rasakan, kalau memang kita juga berani membagikan maaf kepada sesama. Pengampunan Allah membuat kita semakin terbuka akan kebersamaan hidup, dan membebaskan kita dari cengkeraman dosa yang lebih besar lagi.  'Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan', sebab hanya pada Tuhan ada belaskasih berlimpah.

 

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, rajai dan kuasailah hati kami agar sungguh dapat merasakan kasihMu yang menyelamatkan, sebagai Bapa yang senantiasa hadir dan mendampingi kami anak-anakMu. Amin

 

 

Contemplatio

'Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu'.

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening