Selasa dalam Pekan Biasa XXVIII, 11 Oktober 2016

Gal 4:31 – 5:6  +  Mzm 119  +  Luk 11: 37-41

 

 

Lectio

Pada suatu kali ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan.  Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan.  Tetapi Tuhan berkata kepadanya: "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu".

 

 

 

Meditatio

Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan. Siapa orang Farisi yang mengundang Yesus tersebut tidak disebutkan, tentunya salah seorang dari mereka yang berada di situ ketika Yesus mengajar. Apakah Simon sebagaimana yang pernah kita dengr ceritanya? Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tanganNya sebelum makan. Mencuci tangan sebelum makan, bukan hanya merupakan tanda kebersihan, tetapi merupakan bagian upacara dari hukum Yahudi dengan detail-detail aturan yang harus diikuti. Keheranan orang Farisi ini masuk akal, karena Yesus adalah orang Yahudi yang tentunya juga mengetahui aturan dan hukum tersebut. Yesus tidak melakukannya. Mengapa? Yesus tentunya tidak melakukan secara diam-diam, melainkan melakukannya di depan banyak orang.

'Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam?'.  Yesus menyindir dengan mengumpamakan peralatan makan yang dibersihkan bagian luarnya; sindiran atas sikap hidup orang-orang Farisi yang selalu menekankan aturan lahiriah semata, sementara itu tidak memperhatikan sikap diri yang mengabaikan hal-hal mendasar dalam hidup. Mereka membiarkan hidup batin yang penuh dengan kejahatan. Kalau mereka dengan kekayaannya mau memperhatikan yang miskin, maka hidup mereka akan lebih baik. Yesus berkata demikian, karena mereka kaya dengan barang rampasan dan tipuan diri. Mereka bangga dengan kekayaan yang mereka miliki. Mereka malahan bersikap seperti orang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan tidak mau tahu terhadap Lazarus yang duduk mengemis di depan pintu rumahnya. Yesus malah menantang mereka dengan berkata: berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu. Memberikan isi berarti memberikan hati, kasih kepada sesama yang membutuhkan, sebagaimana yang Yesus lakukan, sebagaimana yang dilakukan orang Samaria seperti yang kita renungkan minggu yang lalu. Perbuatan kasih tidak terbatas pada golongan dan suku, tetapi siapapun, setiap orang yang membutuhkan pertolongan.

'Bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih' (Gal 5: 6). Penegasan Paulus benar-benar mengingatkan kita agar kita tidak hanya melakukan tindakan lahiriah semata, tetapi benar-benar melakukan kasih dan perhatian terhadap sesame. Apalah gunanya kalau kita hanya dapat memenuhi diri sendiri, tetapi mau tahu terhadap keperluan sesame. Kalau kita berdia diri berarti kita tidak memenuhi hukum Kristus.

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami agar mampu bersikap baik lahiriah maupun batin sesuai kehendakMu, tidak hanya taat dalam aturan dan hukum, yang membuat kami mengabaikan hukum cinta kasih. Amin

 

Contemplatio

'Kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan'.

 

 

 


Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012

Sabtu Hening