Selasa dalam Pekan Biasa XXX, 25 Oktober 2016


Ef 5: 21-33  +  Mzm 128  +  Luk 13: 18-21

 

 

 

 

Lectio

Pada waktu itu Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah, dan bersabda: 'seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya?  Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya."  Dan Ia berkata lagi: "Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya."

 

 

Meditatio

'Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya?', pertanyaan Yesus yang harus dijawab oleh diriNya sendiri. Apakah Yesus mengalami kerepotan untuk menterjemahkan maksud pengajaranNya sehingga Dia harus bertanya-tanya? Amatlah tak dapat disangkal bertanya-tanya sampai dua kali, sebagaimana dikatakan dalam perikop singkat ini.  'Ia seumpama biji sesawi', sambung Yesus,  'yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya'. Kerajaan surga itu ternyata hal yang kecil dan sederhana. Tidak semua orang memperhatikan biji sesawi, tidak semua orang memerlukannya. Namun bila ditumbuhkembangkan, akan menjadi pohon yang akan dapat dinikmati oleh aneka ciptaan lainnya. Kita orang menikmati keindahan dan makna ekologis dari pohon sesawi, demikian aneka burung-burung di udara.

Demikian juga, 'Kerajaan Allah itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya'. Kerajaan Allah itu adalah hal yang amat kecil dan sederhana, tetapi mampu mengubah kehadiran seseorang menjadi pribadi yang membahagiakan dan menyenangkan hati banyak orang. Kerajaan Allah membuat seseorang menjadi pribadi baru.

Keluarga adalah wadah yang amat subur dalam mengembangkan biji sesawi dan ragi yang mengkhamirkan itu. Kapan dan di mana dimulainya? Semenjak terpadunya dua hati dalam jalinan cinta kasih sebagai suami isteri, saat itulah Kerajaan Allah tumbuh dan berkembang. Sebab bukankah cinta suami isteri itu diminta menampakkan cinta Kristus sendiri kepada GerejaNya? (Ef 5: 21-33). Bila cinta itu terus dinikmati dalam hidup perkawinan, maka kedua hati menjadi keluarga yang bahagia dan penuh sukacita; yang pada akhirnya akan mengalir kepada anak-anak yang kelak dipercayakan Tuhan kepada mereka berdua.

 

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, sabdaMu hari ini menyadarkan kami, agar tidak menjadi sombong atau egois, tetapi mampu menjadi yang terkecil, yang tidak diperhatikan orang dan yang mampu memberikan sesuatu yang berguna bagi sesama di sekitar kami. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Ia seumpama biji sesawi yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya'.

 

 

 

 

Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012