Senin dalam Pekan Biasa XXIX, 17 Oktober 2016

Ef 2: 1-10  +  Mzm 100  +  Luk 12: 13-21

 

 

 

Lectio

Pada suatu hari seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku."  Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?"  Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."

Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.  Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?  Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."

 

 

 

Meditatio

Pada suatu hari seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: 'Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku'. Mengapa orang itu tiba-tiba berseru seperti itu? Mengapa dia bertanya kepada salah seorang Guru keagamaan? Atau memang secara sengaja hendak menjebak sang Guru dari Nazaret ini? Atau memang karena orang itu melihat kebijakan sejati yang dimiliki oleh Yesus. Namun mengapa dia berbicara soal warisan, bukankah hal warisan ada aturan main dalam kebersamaan dalam keluarga?  Tetapi Yesus, yang tahu isi hati umatNya, berkata kepadanya: 'saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?'. Yesus membalik pertanyaan orang tadi. Mulai kapan memang Yesus berbicara tentang harta benda? Bukankah memang Dia seorang Guru yang mengajarkan jalan Allah?  

'Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Berjaga dan waspada terhadap segala ketamakan? Apa yang dimaksudkan Yesus? Tamak dalam harta atau apapun juga akan membuat seseorang menjadi egois, tertutup hatinya terhadap orang lain bahkan saudara sendiri sekalipun. Orang menjadi saling sikut untuk mendapatkan sesuatu, membunuh kadang juga sampai terjadi. Kasih sudah tidak ada lagi di dalam hidupnya, yang ada hanyalah keinginan untuk memiliki. Maka dengan adanya harta tidak membuat seseorang hidup bahagia, tetapi sebaliknya membuat kasih jauh dari hatinya. Keselamatan seseorang tidak bergantung pada banyaknya harta yang dimilikinya. Ini kiranya yang menjadi pesan utama Yesus. Keselamatan seseorang bukannya bergantung pada banyaknya harta yang dimiliki

'Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya', kata Yesus memberikan perumpamaan. 'Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.  Lalu katanya: inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!'. Betapa gembira seseorang memang, kalau dapat hidup nyaman dan tk berkukurangan. 'Tetapi firman Allah kepadanya: hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?  Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah'. Harta tidak mendatangkan kebahagiaan apalagi keselamatan. Yesus tidak melarang para urid mencari kekayaan, Para murid malah diminta tidak menjadi sandungan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Membayar pajak pun ditaati oleh Yesus, sebagaimana yang pernah diingatkan kepada kita, agar murid memancing ikan dan segera membelahnya untuk mendaptkan dua keping uang untuk membayar pajak? Segiat seseorang bekerja, demikianlah orang dalam mengejar keselamatan. Demikian juga dalam bersemangat berolahraga dan berkarya pada aneka kegiatan sosial, seseorang harus berani mengimbangi dengan sabda dan hidup doa yang mendalam.

Paulus sendiri mengalami itu semua dalam hidupnya yang lama dan menulis kepada jemaat di Efesus:  'oleh karena kasihNya yang besar, yang dilimpahkanNya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita oleh kasih karunia kamu diselamatkan' (Ef.2:4-7)

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, bantulah kami agar diberi kebijaksanaan dalam mengelola harta yang ada bukan hanya untuk kepentingan diri, tetapi untuk menolong mereka yang membutuhkan uluran tangan kami.

Santo Ignasius dari Anthiokia, doakanlah kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu'.

 

 

 

 



Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012