Senin dalam Pekan Biasa XXVII, 3 Oktober 2016


Hab 1: 2-4  +  2Tim 1: 6-14  +  Luk 17: 5-10

 

 

 

Lectio

Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"  Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?"  Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?"

Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

 

 

 

Meditatio

Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: 'Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?'. Sepertinya ahli Taurat ini memang sudah tahu apa jawaban yang diharapkan dari Yesus sang Guru. Dia hanya hendak mencobaiNya.  Jawab Yesus kepadanya: 'apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?'. Yesus tahu bahwa diriNya dicobai oleh orang jahat satu ini. Yesus mengembalikan kepada ahli Taurat itu sendiri.  Jawab orang itu: 'kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'. Sekali lagi ahli taurat ini tahu bahwa untuk masuk dalam hidup kekal seseorang harus berani mengasihi Tuhan Allah dan sesama manusia. Kata Yesus kepadanya: 'jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup'. Mencintai Tuhan dan mengasihi sesama memberi jaminan kepada setiap orang untuk menikmati hidup kekal. Mengapa? Karena memang itulah kehendak Tuhan Allah sendiri dari sejak semula dan tak tergantikan.

'Siapakah sesamaku manusia?', kata ahli Taurat itu untuk membenarkan dirinya. Ahli Taurat ini bukanlah seseorang yang tidak mudah putus asa, melainkan orang yang tidak tahu diri. Namun Yesus tidak termakan juga oleh kedegilan umatNya. Ia malah memberi sebuah contoh konkrit. KataNya: 'adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali'. Sebuah contoh kehidupan yang benar-benar real.

'Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?', tegas Yesus kepada orang itu. Dengan mudah juga orang itu menjawab: 'orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya'. Menjadi sesama bagi orang lain tidak cukup merasa bahwa kita sama-sama tercipta. Menjadi sesama bagi orang lain terjadi ketika kita berani menolong orang lain. Ketika kita mengatakan aku ada di sisimu, dia yang tergeletak dan tak berdaya. Menjadi sesama bagi orang lain ketika kita yang memahami cinta kepada Tuhan itu terungkap dalam cinta dan perhatian kepada sesama. Dengan demikian seseorang dapat memasuki hidup kekal, apabila dia tidak hanya mencintai Tuhan Allah dengan segenap hati dan jiwa, tetapi malahan ketika menemukan kehadiran Tuhan sendiri dalam kebersamaan hidup.

Kata Yesus kepadanya: 'pergilah, dan perbuatlah demikian!'.

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, bantulah kami agar mampu mengasihi sesama dengan berani menolong mereka yang membutuhkan dengan tulus hati, sehingga kami mampu memahami cintaMu dan menemukan kehadiranMu di dalamnya. Amin

 

 

Contemplatio

'Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'.

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening