Pemberkatan Gerja Lateran, 9 November 2015

Yeh 47: 8-9  +  1Kor 3: 9-11  +  Yoh 2: 13-22

 

 

 

 

Lectio

Pada suatu  hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem.  Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ.  Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya.  Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan."  Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku."  Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?"  Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali."  Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?"  Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.  Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan mereka pun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.

 

 

 

Meditatio

Pada suatu  hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Paskah adalah perayaan bangsa terpilih Israel. Mereka merayakannya di kota suci, kota Raja Agung, tempat Allah bersemayam. Di Yerusalem lah para nabi semua akan mengakhiri hidupnya (Luk 13). Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ.  Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Semuanya sepertinya dimaksudkan untuk membantu banyak orang dalam mempersembahkan kurban persembahan di bait Allah. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: 'ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan'. Yesus marah besar terhadap para pedagang. Tentunya sudah ada orang yang mengijinkan mereka untuk berdagang di situ. Tentunya juga ada maksud baik mereka berjualan di situ, guna membantu umat beriman, yang hendak mempersembahkan kurban persembahan. Mengapa Yesus marah besar pada waktu itu? Apakah Dia emosi? Sepertinya fokus perhatian utama diletakkan pada kegiatan pasar, daripada sebagai tempat berdoa.  Itulah yang membuat Yesus marah terhadap mereka semua. Maka benarlah yang tersurat dalam Kitab Suci, sebagaimana diingat oleh para murid:  'cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku'. Yesus bertanggungjawab atas bait Allah yang adalah rumah doa, tempat setiap orang berjumpa dengan Bapa di surga.

Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: 'tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?'.  Mereka menangkap sungguh maksud baik Yesus itu. Namun kuasa apa yang diperolehNya, sehingga Dia berhak melarang mereka semua?  Atas nama Yesus melakukan semuanya itu? Bukankah Dia harus tahu mengapa pasar ini didirikan?  Jawab Yesus kepada mereka: 'rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali'. Sebuah penyataan yang menantang!  Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: 'empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?'. Benar juga apa yang dikatakan orang-orang Yahudi. Bagaimana Yesus mau mendirikan kembali bait Allah dalam tiga hari? Sangat tidak mungkin! Padahal yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.  Mengapa Yesus mengaitkan bait Allah dengan tubuhNya sendiri, yang memang akan masuk dalam alam maut selama tiga hari? Kiranya selain setiap orang harus berani menaruh hormat dan menggunakan bait Allah, sebagaimana mestinya. Tentunya doa dan pujian yang sejati tidak bergantung pada kemegahan bangunan gereja, atau juga pada besarnya persembahan kurban bakaran, atau jumlah dana yang kita masukan dalam kotak persembahan. Kristuslah satu-satunya Imam Agung Melkisedek. Dia mengurbankan diriNya satu kali untuk selama-lamanya. Doa dan persembahan sungguh-sungguh berkenan kepada Allah,  bila memang kita satukan dalam kurban Kristus di salib. Sebab Dialah Tuhan Allah yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Dialah Altar Kudus, dan hanya kepadaNyalah Bapa berkenan. Semuanya itu memang baru disadari oleh para murid,  sesudah Yesus bangkit dari antara orang mati. Kematian dan kebangkitanNya membuat setiap orang berani percaya dengan sepenuh hati.  Percayalah para murid  akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus. Alasan inilah yang kiranya juga selalu disampaikan Yesus, bila telah mengadakan aneka mukjizat, untuk tidak memberitahukan segala kepada orang lain, dan Siapakah DiriNya itu.

'Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku'  yang menyemangati Yesus bertindak terhadap orang-orang yang berjualan di bait Allah. Apakah kita juga sering menggunakan gereja sebagai tempat jualan? Tentunya tidak! Malah kita harus berani berkata, bahwasannya setiap kali kami pulang dari Gereja, kami merasakan betapa besar limpah rahmat kasihNya kepada kita, seperti aliran sungai yang mengalir dari ambang pintu Rumah Allah, sebagaimana digambarkan dalam kitab Yehezkiel bab 47. Dari gerejaNya yang kudus, kami rasakan berkat Tuhan menyertai kami, dan kami siap membagikannya kepada sesama kami, sehingga mereka semua yang kami temui merasakan juga rahmat dan kasih Allah yang melimpah kepada setiap orang, tanpa terkecuali. Kiranya yang perlu kita perdalam adalah sejauhmana kita semua memanfaatkan aneka kegiatan Gereja yang semata-mata bertujuan memperdalam iman dan kasih kita itu  kepada sang Kristus Tuhan? Apakah kita memanfaatkan semuanya itu dengan tulus hati? Masih adakah di antara kita orang-orang yang mencari kepuasan diri, dan bahkan hendak menguasai segala-galanya dalam berperan pada bidang-bidang pelayanan?

Kita ini adalah bangunan Allah, dan Roh Allah tinggal dalam diri kita, tegas santo Paulus dalam suratnya pertama kepada umat di Korintus bab 3. Partisipasi kita dalam Gereja semakin menyatukan kita sebagai umatNya, dan kita menjadi tanda keselamatan bagi dunia. Semuanya itu dapat kita rasakan kalau memang partisipasi kita itu bagaikan batu-batu yang yang tersusun di mana Kristus sendiri sebagai Batu Penjuru. Kita ambil bagian sesuai dengan kepercayaan dan berkat Allah yang dilimpahkan kepada kita.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, satukanlah kami selalu sebagai anggota GerejaMu yang kudus. Semoga kami semakin menghayati kesatuan hati dan jiwa yang memang sudah Engkau tanamkan dalam diri kami. Yesus, bantulah kami dalam mengalirkan rahmat dan kasihMu kepada sesama kami. Amin.

 

 

Contemplatio

'Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku'.

 

 

 

 

 

Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012

Sabtu Hening