Sabtu dalam Pekan Biasa XXXII, 5 November 2016

Fil 4: 10-19  +  Mzm 112  +  Luk 16: 9-15

 

 

 

 

Lectio

Pada suatu hari  Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: 'Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi. Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.  Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?  Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah".

 

 

Meditatio

Pada suatu hari  Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: 'Aku berkata kepadamu: ikatlah persahabatan dengan mempergunakan mamon yang tidak jujur, supaya jika mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi'. Penyataan Yesus menantang kita setiap orang untuk menikmti yang ada di dunia ini dengan baik. Kesetiaan diti dalam melakukan yang dipercayakan kepada kita menunjukkan kesetiaan kita kepada Tuhan yang memberi. Segala yang dberikan kepada kita oleh Tuhan sekarang ini sepertinya menjadi batu pijakan bagi langkah menikmati anugerah ilahi yang lebih indah.

Karena itu, 'barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar; dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar', tegas Yesus kepada para muridNya. Memang benar, bagaimana kalau dalam hal kecil saja seseorang tidak setia, tidak teliti, tidak serius, dapat menghadapi perkara besar. Demikian juga, kalau tidak jujur dan benar dalam perkara kecil, dalam perkara-perkara besar pun, seseorang akan sama dalam menghadapinya. Hal-hal rohani adalah perkara besar, karena menuntut perhatian diri secara penuh, tidaklah demikian dengan aneka urusan insani.

Atas dasar itu, Yesus meminta, pertama, 'jikalau kamu tidak setia dalam hal mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?'. Mammon adalah harta benda atau aneka hal yang fana, yang sifatnya memang amat ragawi dan duniawi. Kalau kita menghadapi mammon saja kita sudah tidak setia, dan bahkan kita tidak mampu menguasainya, malah kita dikuasainya, bagaimana kita akan menghadapi harta yang sesungguhnya, yang menjadi kerinduan hati banyak orang? Harta yang sesungguhnya adalah aneka perkara rohani dan surgawi itu. Mammon adalah perkara kecil dan sederhana, yang memang harus kita tinggal, dan tak bisa kita bawa sedikitpun, kalau kematian menjemput kita. Harta yang sesungguhnya adalah segala yang membekali kita untuk menikmati hidup surgawi. Harta inilah yang kita bawa, kalaupun kematian akan memisahkan kita dengan segala yang insani. Minimal tubuh rohani,  sebagaimana yang dikatakan Paulus kali lalu (1Kor 15) menjadi bukti keberadaan kita (bleger kita-Jawa) dalam KerajaanNya yang kudus.

Kedua,  'jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?'. Harta yang kita miliki seperti bukanlah milik pribadi kita seorang. Seseorang yang memiliki harta, sepertinya hanya diminta untuk merawat, menjaga dan menikmatinya dan membaginya dengan orang-orang yang ada di sekitar kita, sekaligus harus mempertanggungjawabkannya kepada Tuhan. Maka kalau Yesus mengatakan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain mengingatkan kita agar kita tidak menggunakannya sendiri. Kita harus berani berbagi, dan tidak menikmatinya sendiri. Sekali lagi, kita hanya diminta merawat, menjaga dan menikmatinya. Harta kita sendiri adalah harta rohani, dan tubuh rohani yang memang harus kita kejar dan kita miliki, dan tidak bisa kita wakilkan kepada orang lain ketika kita harus mencarinya. Maka benarlah apa yang pernah dikatakan Yesus kepada Marta, bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya. Maria sedang mengurus harta pribadinya sendiri.

Ketiga,  'seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon', tegas Yesus kepada para muridNya. Kita tidak boleh mendua. Kita tidak boleh bercabang hati. Ketenggelaman kita kepada mammon akan membuat kita jauh dari Allah, jauh dari keselamatan, dan memang membuat kita tidak selamat. Sebaiknya, kalau kita hanya mempunyai satu komando, yakni Tuhan Allah sendiri, maka kita akan mendapatkan keselamatan. Sebab keselamatan hanya dapat kita peroleh dari Tuhan sang Empunya kehidupan ini.

Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Mereka mencemoohkan Yesus, karena mereka menganggap Yesus tidak tahu apa-apa, atau malah mereka tahu bahwa Yesus hanya mampu memberi wacana, tanpa solusi.  Yesus yang tahu isi hati mereka, lalu berkata: 'kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah'. Paulus berani mengatakan : Segala perkara dapat aku tanggung dalam Dia yang memberi kekuatan padaku (Fil 4:13) karena dia mengalami sendiri di dalam kekurangannya, dia tidak pernah mengalami kelaparan karena jemaat-jemaatnya berani berbagi kasih kepadanya, dan itu yang dikatakan Paulus juga, bahwa itulah yang disenangi Allah.

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, ajar kami untuk tidak menjadi penyembah mammon, tetapi menjadi pribadi yang mengutamakan Engkau sang Penyelamat. Dengan berani berbagi dan memperhatikan orang lain yang memerlukan uluran tangan kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah'.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening