Selasa dalam Pekan Biasa XXXII, 15 November 2016


Why 3: 1-6  +  Mzm 15  +  Luk 19: 1-10

 

 

Lectio

Pada suatu hari Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.  Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.  Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."  Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.  Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."  Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."  Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

 

 

 

Meditatio

Pada suatu hari Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Adakah rumah seseorang yang hendak dituju oleh Yesus? Atau memang hanya melewati saja, karena tujuanNya ke Yerusalem? Entah kenapa Yesus bersama para muridNya melalui dan masuk kota Yerikho.  Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Zakheus tentunya orang yang tidak berkekurangan. Zakheus adalah orang yang mapan, tetapi sepertinya dijauhi banyak orang karena pekerjaannya. Bukankah para pemungut cukai dikategorikan dengan mereka para pendosa? Bukankah memang mereka adalah orang-orang yang bertindak semena-mena terhadap sesamanya?

Zakheus berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu. Apa maksudnya ingin melihat Yesus? Apakah dia begitu tertarik dengan Yesus, karena kabar tentang Orang Satu ini, yang telah tersebar ke mana-mana? Atau memang ada pertobatan dalam diri Zakheus? Minimal Zakheus pernah mendengar kabar tentang Yesus yang menerima baik orang-orang yang dijauhi oleh masyarakat. Tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Sebuah keinginan memang akan selalu mendapatkan hambatan, entah dari dalam diri sendiri, baik itu kemampuan diri yang terbatas atau pun aneka kecenderungan insani, atau dari luar diri seseorang, baik itu sesama kita atau karena cuaca ataupun aneka faktor lainnya. Hidup akan selalu menghadapi  aneka tantangan karena kita adalah makhluk pribadi yang unik. Zakheus sadar sungguh akan kekurangan dirinya.

Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Hidup hendaknya tidak mudah berhenti berjuang. Hidup adalah sebuah perjuangan. Cerdas juga Zakheus ini. Mungkin dia orang yang terbiasa berpikir ke depan mengingat tugas yang diembannya.  Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata:  'Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu'. Sebuah penyataan yang amat membahagiakan Zakheus. Yesus, bukan saja mau dilihat, malah hendak singgah ke rumah orang berdosa ini. Apakah hanya satu orang yang memanjat pohon, dan tidak ada yang lain? Yesus tentunya memilih Zakheus, karena Dia tahu apa yang menjadi isi hati orang satu ini.  Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.  Sekali lagi, betapa bahagia Zakheus, karena bukan saja boleh melihat sang Mesias, malah mendapatkan kesempatan menerima Yesus dalam rumahnya. Zakheus tahu rasanya orang yang menerima keberuntungan, dan inilah yang sekarang diterimanya kembali. Orang berdosa menerima kehadiran Tuhan Allah.

Maka wajarlah, kalau  semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: 'Ia menumpang di rumah orang berdosa'. Suatu komentar yang mengungkapkan ketidakpuasan diri. Sebab bagaimana seorang Guru dan Mesias tinggal di rumah orang berdosa. Yesus bersikap dan bertindak tidak adil. Yesus tidak memahami keadilan sebagaimana diharuskan dalam hukum Taurat. Tetapi Zakheus, yang mendengar dan tahu apa maksud mereka yang mempersoalkan dirinya, berdiri dan berkata kepada Tuhan: 'Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat'. Ungkapan pertobatan dari Zakheus atas segala kelupaannya selama ini. Bertobat berarti mengembalikan segala sesuatu yang memang bukan haknya. Bertobat berarti menjadi orang baik. Bertobat berarti memberi lebih sebagaimana keinginan orang-orang yang membutuhkan.

'Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang'. Penyataan Yesus benar-benar menyatakan bahwa anak Manusia datang untuk membawa keselamatan. Maka menerima Yesus berarti menerima keselamatan, dan itulah yang dialami oleh Zakheus sekarang ini. Menerima Yesus berarti menerima keselamatan, karena memang Dia datang untuk menyelamatkan dan memanggil mereka yang telah hilang. Bertobat berarti membiarkan diri menerima keselamatan.  

Orang berdosa yang bertobat mendapatkan kasih dan perhatian dari Yesus Kristus. Bila demikian, orang yang berbuat baik dan selalu mengamini sabda dan kehendakNya akan selalu mendapatkan rahmat dan berkatNya? Ya benar. Namun kiranya kita tidak bisa menggunakan konsep tersebut dalam hidup beriman yang dewasa. Hidup beriman yang benar, tidak memperhitungkan ada tidaknya rahmat dari Allah. Karena saya telah berbuat baik, maka Allah tentunya harus memberikan yang terbaik lagi bagiku. Itu tidak benar. Itulah sikap orang-orang Farisi dan para ahli Taurat, yang meminta Yesus lebih menaruh perhatian kepada mereka daripada kepada orang-orang berdosa. Itulah iman kaum Farisi. Itulah iman ekonomis.

'Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!' (Why 3: 19). Allah tak segan-segan malahan memurnikan hati dan budi orang-orang yang dikasihiNya. Allah mengasihi umatya tidaklah berarti Allah memanjakan dan mengistimewakan umatNya. 'Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku' (Why 3: 20). Allah tak segan-segan hanya mengetuk dan mengetuk pintu orang-orang yang dikasihiNya agar semakin berani membuka pintu hati dan budinya.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kehadiranMu membawa sukacita dan kebahagiaan bagi setiap orang yang mau membuka pintu hatinya untukMu. Kiranya kamipun semakin berani berjuang untuk bertemu dan dapat menikmati sukacita bersamaMu. Amin

 

 

Contemplatio

'Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu'.

 

 

 

 

Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012