Jumat dalam Pekan Khusus Adven, 23 Desember 2016

Mal 3: 1-4  +  Mzm 25  +  Luk 1: 57-66

 

 

 

Lectio

Pada waktu itu genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki.  Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.  Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya,  tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes." Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian." Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu.  Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan mereka pun heran semuanya.  Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea.  Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

 

 

 

Meditatio

Pada waktu itu genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Kiranya seruan Elisabet ini: 'inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang',  semakin keras dan penuh sukacita. Dengan mata kepala, orang dapat melihat anugerah terindah yang diberikan Tuhan Allah kepadanya dan beserta keluarga.  Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Apa yang pernah dikatakan, bahwa kelahiran anak yang dikandung oleh Elisabet membawa sukacita bagi banyak orang benar-benar terjadi. Mereka gembira juga mengingat peristiwa yang dialami oleh Zakharia sembilan bulan yang lalu, di mana dia menjadi bisu dan tak dapat berbicara apa-apa setelah keluar dari bait Allah.

Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya. Inilah dunia patriakal di mana kaum laki-laki mendominasi kehidupan sehari-hari. Mereka harus didahulukan. Kaum laki-lakilah yang menurunkan silsilah kehidupan, dan bukannya kaum hawa. Tetapi ibunya berkata: 'jangan, ia harus dinamai Yohanes'. Nama itulah yang dikehendaki Tuhan yang memberikan anak laki-laki ini. Kata-kata inilah yang tidak terungkap dari mulut Elisabet. Mengapa dia tidak berkata-kata seperti itu? Bukankah dia harus mengutamakan kehendak Tuhan dan mewartakannya? Kata mereka kepadanya: 'tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian'. Itulah alasan mengapa mereka hendak menamai Zakharia sebagaimana nama orangtua.

Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Walaupun tak berdaya dan lemah, Zakharia tetap mempunyai peran utama dalam pemberian nama. Zakharia mempunyai kuasa penuh atas anak yang dilahirkan oleh sang isteri. Zakaria meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: 'namanya adalah Yohanes'. Zakharia pun mengutamakan kehendak Tuhan Allah atas kelahiran anaknya itu. Dan mereka pun heran semuanya.  Mereka tidak mempersoalkan nama yang tak pernah tersurat dalam kekeluargaan mereka. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. Zakharia diminta untuk menyadari dan mengetahui bahwa yang dijanjikan malaikat itu sungguh benar. Penyebutan nama Yohanes adalah akhir dari ketidak percayaan diri, dan bukannya sebuah hukuman yang ditimpakan kepadanya oleh malaikat. Sebab penyebutan nama Yohanes berarti pengakuan akan tugas perutusan yang dikehendaki Allah kepada anaknya itu. Apakah penyebutan nama Yohanes berarti kelahiran yang sesungguhnya anak laki-laki itu dalam diri Zakharia? Walau memang tidak dapat disangkal, anak itu memang telah dikandung oleh sang ibu semenjak sembilan bulan yang lalu.

Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. Kabar sukacita itu segera tersebar ke mana-mana dan membuat banyak orang bertanya-tanya tentang kejadian indah dan luar biasa itu. Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: 'menjadi apakah anak ini nanti? Sebab tangan Tuhan menyertai dia'. Benarlah yang mereka renungkan ini. Tuhan menyertai seseorang secara istimewa pasti mempunyai rencana dan maksud tertentu. 'Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah' (Mal 4: 5). Tugas inilah yang memang hendak dilakukan oleh Yohanes sebagaimana pernah dikatakan Yesus sendiri kepada orang-orang yang mendengarkan pengajaranNya.

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, kelahiran Yohanes membawa sukacita bagi banyak orang, secara khusus  di masa pekan adven ini kami mempersiapkan diri  menantikan kedatanganMu, yang tidak hanya membawa sukacita, tetapi menyelamatkan bagi setiap orang yang merindukan Engkau. Amin

 

 

Contemplatio

'Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia'.

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012