Selasa dalam Pekan Khusus Adven IV, 20 Desember 2016

Yes 7: 10-14  +  Mzm 24  +  Luk 1: 26-38

 

 

 

Lectio

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,  kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.  Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.  Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.  Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,  dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."  Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"  Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.  Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.  Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."  Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

 

 

Meditatio

'Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah', sapa malaikat Gabriel kepada Maria. Sapaan yang sama juga diberikan Gabriel kepada Zakharia: 'jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu'. Walau tak dapat disangkal Maria telah mendapatkan sapaan salam sebelumnya: 'salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau', yang tidak diterima oleh Zakharia. Isteri Manoakh langsung mendapatkan kabar dari seorang malaikat, juga demikian Maria, mengapa tidak demikian dengan Elizabet. Mengapa Elizabet tidak langsung menerima kabar gembira daripadaNya? Adakah maksud Allah dengan menyapa langsung seorang laki-laki, seorang imam besar dalam menanggapi sabda Tuhan dibandingkan dengan kedua perempuan yang tak mempunyai kedudukan dan peran tertentu?

'Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?'. Sebuah pertanyaan kritis yang diberikan Maria kepada malaikat, sebab bagaimana seruannya itu bisa terjadi, karena dia belum mempunyai seorang laki-laki, seorang suami. Bukankah semuanya itu bisa terjadi dalam relasi pasangan suami isteri? Maria berani bertanya, karena memang dia tidak mengerti. Demikian juga Zakharia: 'bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya'. Kesalahan Zakharia adalah permintaan tanda atau bukti bahwa semuanya akan terjadi. Zakharia ingin mendapatkan kepastian terlebih dahulu, bukankah aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya. Permintaan yang sama juga terjadi pada Thomas, bahwasannya aku sekali-kali tidak akan percaya sebelum melihat luka-luka pada jari-jari tangan, kaki dan lambungNya. Semuanya hendak menegaskan bahwa iman adalah sikap hidup seseorang terhadap Tuhan. Apa yang dikehendaki Tuhan itulah yang terbaik bagi dirinya; dia tidak memperhitungkan semuanya itu bisa terjadi atau tidak. 'Aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu'. Jawaban inilah yang harus dikatakan oleh setiap orang yang percaya dan berserah diri kepada Tuhan Allah.  Pada saat kata-kata ini terucapkan, pada saat itulah Yesus masuk dan tinggal dalam hati Maria, dan baru kemudian dalam rahimnya. Jawaban Maria adalah Natal yang sebenarnya bahwa Yesus lahir dalam hati manusia. Apakah Maria membaca baik apa yang pernah dikatakan oleh nabi Yesaya, bahwasannya Tuhan sendirilah yang akan memberikan suatu pertanda: akan ada  seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel' (Yeh 7: 14)? Bisa ya dan tidak. Namun tak dapat disangkal, Maria sempat bertanya dan bertanya akan maksud dan kehendak Allah.

Mengapa kita harus berani berkata seperti Maria? Kita harus berani berkata seperti itu, karena memang kita adalah orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Maria adalah seorang tokoh iman. Maria adalah satu-satunya orang beriman yang paling unggul dalam memberi teladan. Kita berani berkata seperti Maria, karena memang Tuhan selalu memberi yang terbaik bagi umatNya; dan terlebih-lebih  'bagi Allah tidak ada yang mustahil'.

 

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, teguhkanlah iman kami kepadaMu, agar dalam setiap hal kami percaya dan berserah kepadaMu. Sebab Engkaulah Tuhan dan Penyelamat kami, yang selalu memberi yang terbaik bagi kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu'.

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening