Senin dalam Pekan Khusus Adven IV, 19 Desember 2016


Hak 13: 2-7  +  Mzm 71  +  Luk 1: 5-25

 

 

 

Lectio

Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet.  Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.  Pada suatu kali, waktu tiba giliran rombongannya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan di situ.  Sementara itu seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Waktu itu adalah waktu pembakaran ukupan. Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut.  Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya;  ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka,  dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya."  Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: "Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya."  Jawab malaikat itu kepadanya: "Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu.  Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya." Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran, bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci. Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka, bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, sebab ia tetap bisu. Ketika selesai jangka waktu tugas jabatannya, ia pulang ke rumah.  Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya: "Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang."

 

 

 

Meditatio

Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet.  Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya. Orang-orang yang terpilih memang tidak selalu dimanja oleh Allah; malahan ada sesuatu yang disembunyikan dari mereka. Mereka mengamini kehendak Tuhan, tetapi mereka bukannya mempunyai banyak anak mengingat banyak anak banyak rejeki, malahan tak seorang pun dilahirkan dalam kandungan Elizabet.   'Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!' (Why 3: 19). Apakah ketidak-adaan anak dalam keluarga pasutri Zakharia dan Elizabet itu merupakan hajaran bagi mereka, dan mereka diminta dengan rela menerimanya?

Pada suatu kali, waktu tiba giliran rombongannya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan di situ. Semuanya itu sebagai bentuk pembagian tugas antara imam yang satu dengan lainnya.  Sementara itu seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Waktu itu adalah waktu pembakaran ukupan. Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Penampakan malaikat adalah penampakan Tuhan Allah sendiri; dan tak ada orang yang dapat bertahan di hadapanNya. Wajarlah kalau Zakharia takut dan gentar melihat kenyataan seperti itu. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: 'jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes'. Suatu anugerah yang amat berharga. Mereka yang berdoa dan berdoa, baru sekarang ini mendapatkan jawaban pasti. Dia mendapat seorang anak laki-laki, dan bukannya perempuan. Namanya harus Yohanes, karena memang akan diutus oleh Allah untuk suatu tugas tertentu.

'Engkau akan bersukacita dan bergembira', sambung malaikat itu kepada Zakharia, 'bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu'. Pertama, 'sebab ia akan besar di hadapan Tuhan, kedua, ia tidak akan minum anggur atau minuman keras, ketiga ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya'. Empat 'ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka,  lima, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya'. Ada lima tugas yang akan dikerjakan oleh Yohanes di masa mudanya nanti, dan semuanya itulah yang membuat hati banyak orang bersukacita.

Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: 'bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi?'. Zakharia meminta suatu tanda bahwa semuanya itu akan terbukti dan nyata, 'sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya'. Mana mungkin semuanya itu bisa terjadi? Apa buktinya supaya aku mengamini kabar sukacitamu itu?  Jawab malaikat itu kepadanya: 'Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu.  Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya'. Permintaan bukti adalah wujud ketidakpercayaan Zakharia terhadap segala yang dikatakan malaikat  Gabriel itu. Sepertinya permintaan itu bukan sebagai keberanian untuk melakukan dan menerima kehendak Tuhan, malahan sebaliknya sebagai ungkapan ketidak-percayaan seseorang; dan itulah yang akhirnya mendatangkan hukuman bagi Zakharia. Dia adalah seorang yang menerima belaskasih Allah sekaligus hukuman daripadaNya.

Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran, bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci. Adakah sesuatu yang terjadi pada diri Zakharia? Mengapa dia berlama-lama di dalam bait Allah?  Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka, bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, sebab ia tetap bisu. Memang telah terjadi sesuatu pada diri Zakharia. Zakharia telah mengalami peristiwa yang indah dan mulia. Sebagaimana tidak ada orang yang tahan berdiri di hadapan Allah, demikianlah sepertinya yang terjadi pada diri Zakharia. Ia bisu dan tak berdaya. Dia pun tetap terus melanjutkan tugas hariannya pada saat itu. Ketika selesai jangka waktu tugas jabatannya, ia pulang ke rumah.

Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya: 'inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang'. Sebagai seorang beriman sebenarnya datangnya malaikat menjumpai Zakharia tidaklah harus mengagetkan dia, dan malahan harus penuh syukur pula menerimanya dan tidak perlu meminta bukti akan terjadinya kehendak Tuhan dalam diri sang isteri, bukankah mereka berdua memang telah lama meminta dan meminta perbuatan Tuhan terjadi pada diri mereka, yakni lahirnya seorang anak di tengah-tengah mereka?

Sedikit perbandingan saja pengalaman dari keluarga imam Manoah (Hak 13). Mereka pasutri mengetahui bahwa sang isteri mandul dan tak mempunyai anak. Entah mereka terus meminta dan meminta atau tidak, tetapi tak dapat disangkal, sang isteri Manoakh mendapatkan kabar sukacita bahwa dia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Dia harus bermati-raga ini dan itu. Ketika Manoakh mendengarkan sharing iman sang isteri, keduanya tanpa banyak berkomentar langsung mengamini sabda dan kehendak Tuhan. Apakah ketiga peristiwa Manoakh, Zakharia dan Maria menanyakan perkembangan umat manusia dalam menanggapi sabda dan kehendak Tuhan? Adanya tumbuh dan kembangnya seorang anak manusia menjawabi panggilan dan kehendak Tuhan.

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, Engkau tidak pernah terlambat dalam menolong setiap yang bermohon kepadaMu. Bantulah kami agar teguh beriman dan tak kunjung putus dalam berdoa dan berdoa kepadaMu. Amin

 

 

Contemplatio

'Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes'.

 

 

 

Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012

Sabtu Hening