Minggu dalam Pekan Biasa III, 22 Januari 2017

Yes 8: 23-30  +  1Kor 1: 10-13  +  Mat 4: 12-23

 

 

 

Lectio

Pada saat itu waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.  Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:  "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, --  bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang."  Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"

Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan.  Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."  Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.  Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka  dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.

 

 

 

Meditatio

Pada saat itu waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.  Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali. Mengapa Yesus memilih daerah Galilea, mengapa tidak yang lain? Dia menyingkir dari Nazaret sepertinya untuk menjauhi tekanan pemerintah pada waktu itu, Herodes, agar pewartaanNya tidak terhenti oleh kuasa manusia. Dan tak dapat disangkal, Yesus menyingkir ke Galilea malah memenuhi firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:  'tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, --  bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang'. Kedatangan Yesus membawa terang dan sukacita bagi bangsa-bangsa tersebut, maka tepatlah kalau dikatakan bahwa Dia adalah Terang umatNya yang kudus. Yohanespun menuliskan: 'Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia' (Yoh 1: 5.9).

Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: 'bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!'. Hanya jiwa yang bertobat memang dapat menerima kehadiran Kerajaan Surga. Kerajaan Surga sudah dekat, karena memang Yesus ada di tengah-tengah umatNya, tetapi belum diterima oleh banyak orang. Kerajaan Surga dalam diri umatNya, dan umatNya menikmati situasi KerajaanNya, kalau seseorang menerima kehadiran Yesus. Kehadiran Kerajaan Surga adalah Imanuel.

Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan.  Yesus berkata kepada mereka: 'mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia'.  Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Mengapa mereka berdua langsung mengikutiNya? Apakah mereka langsung mengerti apa yang dimaksudkan dengan penjala manusia? Iman kepercayaan kepada Tuhan Yesus memang lebih mengandaikan kepasrahan dan keberserahan diri, dan bukannya semata-mata mengandalkan kekuatan akal budi. Keberanian meninggalkan segala sesuatu adalah juga wujud dari pertobatan diri sebagaimana diwartakan oleh Yesus untuk menikmati kehadiran Kerajaan Surga. Meninggalkan segala-galanya, tidaklah semata-mata meninggalkan harta benda yang kita miliki, melainkan juga meninggalkan ayahnya, sebagaimana dicontohkan oleh Yohanes dan Yakobus, anak Zabedeus ini. Benarlah memang yang dikatakan Yesus juga kepada para muridNya, bahwasannya barang siapa mau mengikuti diriNya harus berani meninggalkan orangtua dan sanak saudaraNya; tetapi sebaliknya barang siapa meninggalkan semuanya itu akan menerima seratus kali ganda segala yang ditinggalkannya.

Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.

Keberanian menerima Yesus yang adalah kehadiran Kerajaan Surga merupakan sikap hidup yang patut dibanggakan dan patut disyukuri. Mengapa? Karena kita menerima keselamatan itu sendiri. Tinggal dalam KerajaanNya berarti tinggal dalam keselamatanNya.  Maka kiranya yang terus kita usahakan adalah menikmati kehadiranNya dalam hidup kita sehari-hari. Hendaknya kita tidak hanya bangga dengan bagaimana kita menjadi pengikutnya, entah itu melalui Paulus, Apolos, atau Kefas atau siapapun saja, sebagaimana disinggung dalam surat pertama Paulus kepada umat di korintus (1: 10-13), kita harus bangga karena mengikuti Dia dengan mendengarkan sabda dan kehendakNya. Kristuslah yang kita cari, dan bukan yang lain. Kristuslah yang harus kita beri tempat dalam hidup kita, dan bukannya yang lain.

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, kami bersyukur kepadaMu, dengan membuka hati dan menerima sabda dan melakukan kehendakMu, kami telah turut serta dalam menikmati kehadiran KerajaanMu dan semakin berani mengutamakan Engkau dalam hidup kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!'.

 

 

 

Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012