Rabu dalam Pekan Biasa II, 18 Januari 2017

Ibr 7: 1-3  +  Mzm 110  +  Mrk 3: 1-6

 

 

 

Lectio

Pada suatu kali, Yesus masuk  ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya.  Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: "Mari, berdirilah di tengah!" Kemudian kata-Nya kepada mereka: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Tetapi mereka itu diam saja.  Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.

 

 

Meditatio

Pada suatu kali, Yesus masuk  ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya.  Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Ternyata inilah yang membuat situasi selalu panas dan penuh perbantahan, karena banyak orang mencari-cari kesalahan Yesus. Mereka mencari-cari, karena memang Yesus sendiri tidak melakukan kesalahan, malah sebaliknya segala yang dilakukanNya dibenturkan dengan hukum Taurat. Iri hati dan mencelakakan orang lain kiranya menjadi alasan mengapa orang-orang itu hendak mempertentangkan karya Yesus Guru Nazaret dengan penerapan hukum Taurat, khususnya perayaan hari Sabat.

Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: 'mari, berdirilah di tengah!'.  Yesus hendak melakukan sesuatu secara demontratif sepertinya. Kemudian kata-Nya kepada mereka: 'manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?'. Yesus menantang mereka. Yesus bertitik tolak pada perbuatan baik dalam menikmati hari Sabat kepada mereka yang malah memaksa orang untuk tidak melakukan segala sesuatu di hari sabat. Tetapi mereka itu diam saja. Mereka diam bukannya tidak bisa menjawab, melainkan karena mereka tidak berkutik. Mereka adalah kaum munafik, karena memang minimal setiap pagi sebelum menikmati hari Sabat mereka melepas dan memberi ternak mereka makan. Yesus berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka. Mereka benar-benar orang yang tidak tahu diri, yang hanya ingin mencari dan membinasakan orang lain. Mereka tidak bertanggungjawab atas ucapan yang mereka lontarkan sendiri.

'Ulurkanlah tanganmu!', kata Yesus kepada orang yang lumpuh tangannya sebelah itu. Ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Yesus membuat segala-gala baik adanya. Orang banyak itu  bukannya bergembira dan bersukacita, sebaliknya keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia. Mereka benar-benar orang yang degil hati.

Bagaimana kita memandang Yesus? Apalagi kita tahu bahwa Yesus adalah Imam seperti Melkisedek sebagaimana dikatakan dalam Perjanjian Lama. Dia seperti imam Melkisedek, karena Dia bukan saja menjadi Iman yang bukan berdasarkan peraturan manusia, melainkan berdasarkan hidup yang tak dapat binasa (Ibr 7: 15-16), karena memang Dia adalah Allah sendiri yang menjadi manusia. Dia sungguh-sungguh Allah, dan sungguh-sungguh manusia.

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, bantulah kami agar keegoisan dan kesombongan tidak membuat kami mengabaikan hukum cinta kasih dalam menolong sesama, tetapi mampu memahami kehendakMu yang datang ke dunia demi keselamatan umat manusia. Amin

 

 

Contemplatio

'Yesus berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka'.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening