Selasa dalam Pekan Biasa II, 17 Januari 2017

Ibr 6: 10-20  +  Mzm 111  +  Mrk 2: 23-28

 

 

 

Lectio

Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum.  Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?" Jawab-Nya kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan,  bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu -- yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam -- dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?"  Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat,  jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat."

 

 

Meditatio

Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Mengapa mereka memetik bulir gandum? Apakah mereka lapar? Kalau pun memetik, hanya sejumlah berapalah yang dapat mereka ambil; bukankah juga memang diijinkan sedikit mengambil hasil kebun dan menikmatinya di situ? Namun hari itu adalah Sabat, yang mana setiap orang tidak boleh bekerja, orang harus beristirahat sebagaimana Tuhan sendiri beristirahat di hari ketujuh. Orang malahan harus memberi waktu kepada Tuhan dengan berdoa bersama sebagai tanda nyata mereka bersatu dan beristirahat bersama Tuhan.

'Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?', protes orang-orang Farisi kepada Yesus. Mengapa malahan Yesus membiarkan mereka? Bimbingan apa yang hendak diberikanNya, kalau hari Sabat yang luhur saja tidak diajarkanNya kepada mereka? Apakah memang  perlu segera dilontarkan pertanyaan itu, atau sebaliknya menunggu sejenak melihat apa yang terjadi?  Jawab-Nya kepada mereka: 'belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan,  bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu -- yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam -- dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?'. Apakah jawaban ini hendak mengatakan dan memohon maaf, bahwa memang para muridNya sekarang ini dalam keadaan lapar sehingga memetik bulir-bulir gandum? Minimal Yesus meminta kita untuk memahami orang lain.  Lalu kata Yesus kepada mereka: 'hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat'. Segala aturan memang dibuat untuk kita orang, dan kita dimintai untuk mentaati. Namun tidaklah diartikan kita dipaksakan dan kaku dalam mengikutinya. Bila seseorang tidak mengerti dan di luar kebiasaan di mana berada, amatlah dimengerti terjadi pelanggaran. Adanya orang sakit dan dalam keadaan darurat, kiranya bisa kita dahulukan melanjutkan perjalanan proses pengobatan. Malahan yang lemah dan terpinggir kiranya mendapatkan perhatian utama dalam aneka peraturan hidup. Kalau kita manusia saja menjadi pemilik atas aneka aturan hidup, termasuk hari Sabat, apalagi  'Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat', yang adalah sang Empunya kehidupan ini.

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, Engkau lebih dari hari Sabat yang harus kami taati dan patuhi, ajarilah kami, agar dapat memahami dan melakukan sabdaMu yang mendahulukan kasih daripada segala aturan dan hukum yang kadang menghambat kami dalam melaksanakan kehendakMu. Amin

 

 

Contemplatio

'Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat',

 

 

Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012

Sabtu Hening