Selasa dalam Pekan Biasa IV, 31 Januari 2017

Ibr 12: 1-4  +  Mzm 22  +  Mrk 5: 21-43

 

 

 

Lectio

Pada suatu hari sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau,  datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya  dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup."  Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.

Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.  Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.  Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.

Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?"  Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?" Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja!" Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: "Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!" Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!" Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

 

 

 

Meditatio

Pada suatu hari sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Berapa kira-kira jumlah orang yang mengerumuni Dia? Sedang Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Apakah dia orang Saduki atau Farisi? Dia datang kepada Yesus, apakah karena percaya atau hanya ingin mendapatkan sesuatu? Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya  dan memohon dengan sangat kepada-Nya: 'anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup'. Apakah Yairus ini lebih percaya kepada penumpangan tangan atau kata-kata Yesus? Apakah iman Yairus tidak sebanding dengan iman perwira Romawi yang hanya meminta sabdaNya?  Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. Banyak orang ingin melihat apa yang terjadi. Apakah cerita di daerah Gerasa membuat banyak orang ingin melihat yang terjadi berkat kehadiranNya? Mereka bergerombol dalam jumlah besar, tetapi mereka bukan legio, bala tentara, karena mereka ini tidak mempunyai kekuatan.

Ada di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.  Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Hanya dokter sekarang ini yang mungkin dapat mendiagnose perempuan satu ini. Hanya dokter sekarang ini yang dapat mengatakan stadium berapa perempuan malang ini. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Perempuan malang ini tidak takut dengan kerumunan banyak orang. Iman memang mengatasi kemampuan insani.  Sebab katanya: 'asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh'. dan sungguh, seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Alleluia Tuhan, Engkau mahabaik. Apakah perempuan itu tidak berteriak atas anugerah yang diterimanya?

Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: 'siapa yang menjamah jubah-Ku?'. Yesus merasakan ada kekuatan yang keluar dari diriNya. Yesus merasakannya secara khusus, apakah karena peristiwa itu di luar kehendakNya? Apakah peristiwa yang baru terjadi itu dapat kita bandingkan dengan permintaan Maria ketika berkata mereka kehabisan anggur?  Murid-murid-Nya menjawab: 'Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: siapa yang menjamah Aku?'. Suatu komentar yang amat rasional dan logis. Peristiwa iman memang sulit dipahami hanya sebatas analisa akal budi. Itulah kita manusia.

Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Kemanusiaan Yesus tidak mampu menangkap siapakah orang yang telah menjamahNya. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. Kejujuran menyenangkan hati Allah. Maka kata Yesus kepada perempuan itu: 'hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!'. Iman mendatangkan berkat dan rahmat. Iman membuat eganya baik adanya. Iman membawa kepada kesempurnaan (Ibr 12: 2), tegas surat kepada umat Ibrani. Iman yang sama itulah yang membawa sukacita bagi perempuan yang sebelumnya sakit pendarahan itu.

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: 'anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?'. Benar memang apa yang dikatakan oleh anggota keluarga Yairus. Mereka berkata-kata sebatas kekuatan nalar. Bukankah juga kematian adalah akhir segala-galanya, itulah kiranya perkiraan anggota keluarga pemimpin rumah ibadat yang merindukan kedatangan sang Guru. Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: 'jangan takut, percaya saja!'. Iman akan membuat sebuah penyelesaian yang indah yang tidak mampu dikerjakan oleh akal budi. Yesus mengajak mereka tidak kuatir dan gelisah, karena tentunya Allah mempunyai rencana indah bagi setiap umatNya.

Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Mengapa mereka dilarang? Apakah hanya sekedar untuk mempercepat perjalanan mereka? Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Inilah realitas dalam peristiwa kematian. Kesedihan selalu mengiringi kepergian orang yang dikasihinya. Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: 'mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!'. Di hadapan Allah semua hidup. Tetapi mereka menertawakan Dia. Sekali lagi perlawanan antara kemampuan insani dan iman. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu. Yesus tidak terbiasa bertanya-tanya tentang sakit seseorang. Pertanyaan kita memang terhadap mereka yang sakit sebenarnya menambahi beban psikologis, karena seseorang harus menceritakan peristiwa yang pahit dan tidak mengenakkan.

'Talita kum', kata Yesus kepada anak itu, yang berarti: 'hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!'. Yesus berkuasa atas hidup. Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Kita tentunya dapat membayangkan anak itu akan melompat kegembiraan. Semua orang yang hadir sangat takjub. Semua bangga karena mereka melihat kembali kehidupan di tengah-tengah mereka. Anak perempuan satu ini benar-benar hidup kembali, karena memang dia hanyalah tidur di hadapan sang Empunya kehidupan.

Dengan sangat Yesus berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

 

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, seringkali kami melihat dan merasakan segala sesuatu hanya sebatas mata insani. Kami lupa kalau iman membuat segalanya indah adanya. Ajarilah kami untuk berani mudah melihat sesuatu dalam kasih, yakni dengan mata dan telinga hati kami. Amin.

 

 

Contemplatio

'Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?'.

 

 

 

 

Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012

Sabtu Hening