Jumat dalam Pekan Biasa IV, 3 Februari 2017

Ibr 13: 1-8  +  Mzm 27  +  Mrk 6: 14-29

 

 

 

Lectio

Raja Herodes juga mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya sudah terkenal dan orang mengatakan: "Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia." Yang lain mengatakan: "Dia itu Elia!" Yang lain lagi mengatakan: "Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu."  Waktu Herodes mendengar hal itu, ia berkata: "Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi."  Sebab memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri.  Karena Yohanes pernah menegor Herodes: "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!" Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: "Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!", lalu bersumpah kepadanya: "Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!" Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: "Apa yang harus kuminta?" Jawabnya: "Kepala Yohanes Pembaptis!" Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!" Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya. Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan.

 

 

Meditatio

Raja Herodes juga mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya sudah terkenal. Yesus menjadi Orang terkenal, karena memang banyak orang datang mencariNya. Banyak orang mendengarkan pengajaranNya, walau tak dapat disangkal Yesus selalu menjadi bahan perbantahan banyak orang, karena pengajaranNya yang membongkar kemapanan yang ada dan membuka mata telinga mereka. Yesus tidak pernah menyatakan siapakah namaNya. Yesus tidak pernah mengatakan Aku Yesus, dan aneh juga tidak ada orang yang berani bertanya kepadaNya siapakah namaNya. Apakah tabu bertanya nama kepada seorang guru? Mengapa para murid juga tidak memberitahukan namaNya? Minimal memang nama Yesus tidak dikenal banyak orang.

'Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia'. Itulah komentar banyak orang. Mereka berkata-kata demikian, karena nama Yohaneslah yang diketahui banyak orang. Namun apakah Yohanes pernah juga menyebut nama dirinya di hadapan banyak orang? Bukankah dia selalu berkata akulah suara yang berseru-seru di padang gurun? Nama memang menegaskan peran dan panggilan seseorang. Mengakui nama seseorang berarti mengakui peran yang disandang orang tersebut. Nama bukan sekedar sebutan/panggilan terhadap seseorang. Yang lain mengatakan: 'dia itu Elia!', yang lain lagi mengatakan: 'dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu'. Mereka semua menyebut Yesus dengan membandingkan tokoh-tokoh idola yang mereka kenal. Mengapa mereka tidak ada yang berani menyebut Dia itu Musa?  

'Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi', seru Herodes ketika banyak orang memperbincangkanNya. Mengapa Herodes teringat keras akan Yohanes. Ingatan akan Yohanes tertancap kuat pada diri Herodes, karena memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri.  Yohanes pernah menegor Herodes: 'tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!', tetapi Herodiaslah yang menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan akan Yohanes. Herodes tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. Herodes galau terhadap Yohanes, karena pergulatan nalar dan emosi dalam dirinya. Yohanes menjadi bahan kegelisahan bagi Herodes.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: 'minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!', lalu bersumpah kepadanya: 'apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!'. Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: 'apa yang harus kuminta?'. Jawabnya: 'kepala Yohanes Pembaptis!'. Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: 'aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!'. Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya. Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan.

Sedikit catatan untuk peristiwa yang menimpa Yohanes pembaptis. Pertama, seorang anak memang selalu menarik perhatian kedua orangtuanya, karena itu benarlah kalau disebut sang buah hati. Apalagi kalau dia mampu menggembirakan hati kedua orangtuanya; mereka taat dan setia terhadap orangtuanya. Kedua, berkata-kata tanpa berpikir terlebih dahulu memang sering mempunyai resiko yang tidak diperhitungkan jauh-jauh sebelumnya. Kiranya setiap orang harus berani berpikir panjang sebelum berani berkata-kata. Ketiga, adakah sebuah sumpah dapat dicabut kalau memang itu membinasakan dan meniadakan jiwa orang lain? Apakah kita biarkan saja, walau jiwa orang lain terancam? Jabatan dan harga diri janganlah takut berkurang, karena omongan dan perbuatan kita sendiri. Itulah yang tidak dilakukan Herodes. Keempat, dosa kecil kalau kita biarkan saja akan menjadi gurita kehidupan. Itulah pengalaman Herodes. Itulah permintaan Yesus juga agar  kita berani mencabut akar-akar dosa sebelum tumbuh dan berkembang. Kelima, membela kebenaran dan bonum commune memang memerlukan keberanian tersendiri. Itulah yang dilakukan Yohanes pembaptis. Keenam, gadis kecil itu tidak bersalah, tetapi ketika seseorang mengerti baik dan buruk, dia harus berani berkata tidak ketika dimasukkan dalam ruang kejahatan.

Yohanes pasti tidak menjadi kegelisahan diri kita, karena memang kita adalah orang-orang yang telah mengenal Kristus dan menikmati karya penebusanNya. Kiranya marilah kita semakin berani melihat kehadiran Tuhan dalam diri sesama kita. Keberadaan orang yang tidak kita sukaipun seringkali menyampaikan kabar sukacita kepada kita. Hendaknya kita tidak mudah termakan omongan kita sendiri seperti Herodes atau bahkan seperti Herodias yang begitu mudah termakan oleh kebencian terhadap sesama. Kebencian akan menghanguskan kita. 'Peliharalah kasih persaudaraan! Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat' (Ibr 13: 1-2). Suatu ajakan agar kita selalu menjalin persaudaraan dengan sesama. Ajakan ini semakin indah kalau kita melihat kehadiran Kristus Tuhan sendiri dalam diri sesama kita.

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, bantulah kami agar tidak mudah terpancing emosi dan kebencian yang membuat kami jatuh dalam dosa, tetapi mampukan kami untuk dapat melihat kehadiranMu dalam diri sesama. Sebab dalam diriMu ada kasih yang mampu menyelamatkan. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia'.

 







Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012

Sabtu Hening