Jumat dalam Pekan Biasa V, 10 Februari 2017

Kej 3: 1-8  +  Mzm 32  +  Mrk 7: 31-37

 

 

 

Lectio

Pada waktu itu  Yesus meninggalkan daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepadaNya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepadaNya, supaya Ia meletakkan tanganNya atas orang itu.  Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jariNya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu.  Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah!  Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarangNya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikanNya mendengar, yang bisu dijadikanNya berkata-kata."

 

 

Meditatio

Yesus meninggalkan daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Mengapa Yesus membuat perjalanan yang memutar? Dari selatan ke arah utara, daerah Sidon, untuk pergi ke Galilea yang sebenarnya terletak di selatan Tirus? Bukankah Dia secara sengaja selalu berkata, bahwa Dia datang untuk mencari domba Israel yang hilang dan terceraiberai? Atau memang sekaligus hendak menyatakan bahwa keselamatan itu disampaikan untuk semua bangsa, seluruh umat manusia?

Setibanya Yesus di daerah Dekapolis,  seseorang membawa kepadaNya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepadaNya, supaya Ia meletakkan tanganNya atas orang itu. Seorang yang tuli pasti mengalami kesulitan berbicara. Bagaimana mungkin orang tersebut berbicara, sedangkan dia tidak bisa mendengar apa yang diajarkan kepadanya?

Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jariNya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Bagi orang yang tuli mungkin lebih sensitif perasaannya daripada mereka yang buta, karena mereka bisa melihat semua yang ada di hadapannya. Apakah karena untuk menjaga perasaan orang tuli tersebut Yesus memisahkannya dari orang banyak? Dengan datang saja kepada Yesus untuk meminta kesembuhan seharusnya seseorang sudah harus malu adanya. Ia memasukkan jariNya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Apakah harus dengan cara demikian Yesus menyembuhkannya? Bukankah Yesus berkuasa hanya dengan mengucapkan satu patah kata saja maka orang tersebut akan sembuh? Apakah Yesus hendak membahasakan karya penyelamatanNya itu sesuai dengan cara budaya orang setempat?

Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: 'efata!', artinya: terbukalah. Semuanya ini terjadi dan mau menyatakan bahwa Yesus menyembuhkan karena kuasa Allah. dia berkuasa atas  hidup. Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Kehadiran Allah dalam diri Yesus selalu mendatangkan hal-hal yang baik dan indah bagi orang yang percaya dan mau menerima Dia.

Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarangNya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mengapa? Karena Yesus tahu saatNya belum tiba, maka Yesus berpesan untuk tidak menceritakannya kepada siapa-siapa. Tetapi kabar baik, kabar sukacita tidak dapat ditutupi dan akan tersebar dengan cepatnya ke mana-mana. Tidak ada kabar sukacita yang tersebunyi. Semua akan dibukakan, sebab bukankah Allah menghendaki semua orang beroleh dan mendengarkan kabar sukacita. Mereka takjub dan tercengang dengan apa yang dilakukan Yesus, dan berkata: 'Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikanNya mendengar, yang bisu dijadikanNya berkata-kata'.  Ia menjadikan segala-galanya baik, inilah kesimpulan seperti yang dikatakan Allah di awal penciptaan mengenai ciptaanNya sendiri.  Pada awal penciptaan semua diciptakan Allah baik adanya.

Namun karena keinginan manusia yang mau melihat semua, keinginan untuk mengetahui lebih banyak, maka manusia jatuh dalam dosa karena melawan kehendak Allah. 'Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang' (Kej 3: 6-7a). Dua peristiwa yang berseberangan satu dengan lainnya. Yang satu, seorang tuli  dan gagap tersebut menginginkan sesuatu yang lebih baik dalam hidupnya, ingin bisa mendengar dan berbicara. Kedatangan Yesus memberi kepuasan telinga hati si tuli menjadi terbuka, terbuka mata telinga rohaninya terhadap dunia sekitarnya. Yang kedua, Adam dan Hawa melawan kehendak Allah, dan membuat terbuka mata, bahwa mereka telah jatuh dalam dosa.

Kehadiran Allah selalu membuat mata, telinga hati setiap orang yang berani menatap kepadaNya menjadi terbuka dan menyadari kehadiranNya sebagai Allah sang Empunya kehidupan yang membuat  segala-galanya indah pada waktunya. Sebaliknya keinginan manusia hanyalah sering mencari kepuasan diri, dan malah berani-beraninya melawan kehendak Allah. Keinginan baik hati seorang manusia tidak selalu selaras dengan kehendak Allah, terlebih keinginan yang hanya ingin mencari kepuasan diri.

 

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, bantulah kami agar telinga dan mata hati kami terbuka terhadap sabda dan kehendakMu, berani datang kepadaMu sehingga berkat keselamatan yang kami peroleh juga dapat dinikmati sesama kami.

Santa Skolastika, doakanlah kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikanNya mendengar, yang bisu dijadikanNya berkata-kata'.

 

 

 

 

Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012

Sabtu Hening