Jumat dalam Pekan Biasa VII, 24 Februari 2017

Sir 6: 5-17  +  Mzm 119  +  Mrk 10: 1-12

 

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang sungai Yordan dan di situ pun orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula.  Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?"  Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Apa perintah Musa kepada kamu?"  Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai."  Lalu kata Yesus kepada mereka: "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan,  sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah."

 

 

 

Meditatio

'Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?', tanya salah seorang Farisi, yang memang hendak mencobai Yesus. Dia hendak mencobai, karena tentunya sebagai ahli Taurat dia sudah tahu apa jawabannya. Kaum Farisi hendak menjebak Yesus dengan aneka pertanyaaan yang memojokkan.  Tetapi jawab-Nya kepada mereka: 'apa perintah Musa kepada kamu?'. Jawab mereka: 'Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai'. Kaum Farisi memasukan Yesus dalam suatu jebakan. Yesus diadu dengan segala yang tersurat dalam kitab Taurat dan kitab para Nabi. 

'Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu', tegas Yesus. Inilah salah satu bukti bahwa Yesus menyempurnakan kitab Taurat dan kitab para Nabi yang seringkali terkekang, dan bahkan dikekang, oleh sejarah manusia. Yesus bukan meniadakan kedua kitab, melainkan hendak menggenapi dan menyempurnakannya. Karena itu, sambung Yesus,  'sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan,  sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia'. Perkawinan adalah kesatuan antara seorang laki-laki dan peremaun dan dikehendaki Allah, bahkan Allah sendiri yang menyatukan dengan pengucapan janji mereka berdua. Perceraian adalah pelawanan terhadap kehendak Allah.

Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. Mengapa baru sudah di rumah mereka berani bertanya kepada sang Guru?  Lalu kata-Nya kepada mereka: 'barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah'. Perceraian dan monogami adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan satu sama lain. Kesetiaan pada pasangan itulah kiranya tali pengikat perkawinan dan membuat kedua hati itu penuh sukacita.

Pasangan dalam keluarga, bukanlah sekedar sahabat, apalagi mengingat adanya sahabat yang hanya mencari keuntungan dari sesamanya, sebagaimana dikatakan kitab Sirakh (6: 5-17). Persahabatan itulah yang meminta kesetiaan satu sama lain, dan menerima apa adanya, malah berusaha membangun dan menyempurnakan. Karena itu, pilihan yang dijatuhkan pada sahabat yang hendak menjadi pasangan hidup kiranya perlu persiapan yang matang. Bukankah mengandaian adanya tidaknya adanya perceraian dan sifat kodratinya yang monogam dari suatu perkawinan semata-mata menunjuk pada kesetiaan terhadap pasangan seumur hidup? Sejauh prinsip hidup Kristus sendiri yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dalam relasi suami iseri, maka terjalinlah pasangan suami isteri yang seia-sekata, sehati-sejiwa seumur hidup.

 

 

 

Oratio

Yesus Kristus, limpahkanah kasihMu yang semakin nyata kepada keluarga-keluarga kami, khususnya bagi keluarga-keluarga muda kami, agar kami semakin sehati sejiwa dalam menampakkan kaki ke masa depan yang lebih cerah. Amin.

 

 

 

Contemplatio

'Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah'.

 





Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012