Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah, 2 Februari 2017


Mal 3: 1-4  +  Mzm 24  +  Luk 2: 22-32

 

 

 

Lectio

Ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,  seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah",  dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Ada di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,  dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,  ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:  "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,  sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,  yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."   

 

 

Meditatio

Ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,  seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: 'semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah',  dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Yang harus mengalami pentahiran adalah Maria, dan bukannya Bayi yang dikandungnya. Itulah hokum Taurat, yang memandang perempuan sebagai najis karena peristiwa bulanan yang harus dialami. Apakah peristiwa datang bulan membuat kodrat perempuan selalu najis? Inilah ketidakadilan dalam Taurat Musa. Bukankah semua itu dialami perempuan itu dalam kodratnya, yang memang tidak bisa dihindari atau dibuat-buat? Yang terjadi pada diri perempuan adalah kehendak Allah sang Pencipta. Melahirkan pun demikian adanya. Mereka harus dikuduskan, mereka harus ditahirkan. Itulah yang harus dialami oleh Maria.

Kiranya patut dibanggakan juga bahwasannya anak sulung harus dikuduskan dan dipersembahkan kepada Tuhan. Bagaimana dengan mereka anak bungsu? Tentunya dunia patriakhal amat berbicara. Yesus adalah anak Sulung? Ya memang. Apakah Dia mempunyai beberapa adik? Kitab Suci tidak membicarakan.  Hanya Markus saja menuliskan bahwa Yesus adalah seorang Tukang kayu, Anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon (Mrk 6). Secara sengaja Matius menuliskan sebagai Anak Sulung, karena memang Dialah juga Putera Sulung kebangkitan (bdk. Kol1: 18). Dialah Yang Pertama dari segala ciptaan.

Ada di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,  dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Orang kudus satu ini memang sungguh luar biasa. Hidupnya menjadi tanda kehadiran Allah. Mengapa? Sebab dia akan berpulang ke rumah Bapa, bila dia melihat Allah datang menjemput dirinya. Kehadiran Yesus di dunia adalah saat kehadiran Simeon dalam Kerajaan Surga. Dia berpulang karena Allah menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah umatNya.

Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Dia diundang oleh Roh Kudus, karena Yang dijanjikan telah datang. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,  ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah. Segala-galanya ada waktunya. Itulah yang terjadi juga dengan kedatangan Anak Allah. Kehadiran Allah memang selalu dirasakan oleh orang-orang yang mengharapkanNya. Kerinduan akan Tuhan Allah memang selalu mendatangkan berkat. Simeon mampu melihat bahwa Bayi yang dibopongnya itu adalah Mesias. Dia memang pasti tahu apa yang dinubuatkan oleh nabi Maleakhi, bahwa Anak Manusia akan datang 'seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak' (Mal 3: 3-4). Dia mampu melihat dan merasakan kedatangan sang Mesias, karena dia memandang dengan hati yang penuh kasih.

'Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,  sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,  yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel'. Sebuah ungkapan sukacita dan penuh syukur. Waktunya sudah tiba. Simeon tahu sungguh siapakah Anak Kecil yang dibopongnya itu. Dia menerima Yesus. Dia menerima sang Kehidupan dan Keselamatan yang dinyatakan bagi seluruh umat manusia. Maka kini dia meminta untuk diijinkan berpulang kepadaNya, karena yang dinanti-nantikan itu sudah datang. Dia datang bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk seluruh umat manusia, untuk seluruh bangsa-bangsa. Semuanya itu secara istimewa menjadi kebanggaan Israel, karena sang Empunya kehidupan datang dan dilahirkan melalui keturunan Abraham.

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, Engkau dipersembahkan oleh kedua orangtuaMu, karena ketaatan mereka akan hukum Taurat. Semoga kami pun berani taat dan setia dalam hidup bersama, terlebih kalau itu memang menjadi kepentingan dalam hidup bersama. Ajarilah kami juga, ya Yesus, untuk semakin berani mengutamakan kehendak Bapa di surga. Amin.

 

 

 

Contemplatio

Yusuf dan Maria membawa Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,  seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah.

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening