Rabu Abu, 1 Maret 2017

Yl 2: 12-18   +  2Kor 5: 20-28  +  Mat 6: 1-6.16-18

 

 

 

Lectio

Pada waktu bersabdalah Yesus: 'ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.  Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu'.

 

 

 

Meditatio

'Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga', tegas Yesus kepada para muridNya. Bukankah memang kewajiban agama itu untuk pengudusan diri? Bukankah Tuhan Allah yang menguduskan, yakni Dia Bapa di surga? Kalau hanya ingin dilihat dan diakui oeh orang-orang sekitar kita berarti segala yang kita lakukan  hanya untuk kemanan dan kenyaamanan diri saja.

'Jika engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu'. Penyataan Yesus hendak mengingatkan kita orang-orang yang ingin dikenal sebagai penderma dan suka memberi. Kalau memang kita mau memberi, ya baiklah kita berikan dengan tulus ikhlas, tanpa harus dilihat dipandang orang.

'Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu'. Kepada siapa memang kita harus melambungkan doa-doa? Kalau memang berdoa hanya untuk dilihat orang  tidak ada maknanya doa-doa kita. Apa juga yang kita cari dalam berdoa? Yesus saja sudah mengingatkan agar kita terlebih dahulu mencari KerajaanNya, apalagi kalau berdoa hanya ingin dilihat orang.

'Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu'. Berpuasa juga memang tentunya kita tujukan kepada Tuhan Allah sang Empunya kehidupan. Berpuasa bukan soal tidak makan dan tidak minum; berpuasa lebih pada pengendaian diri terhadap aneka keenderungan insani yang memang menghambat diri kita sampai kepada Allah. Berpuasa amat-amat individual, kalau pun kita pamerkan kepada orang lain sebenarnya tidak ada pengaruhnya terhadap makna puasa itu sendiri.

'Sekarang berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.  Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya' (Yl 2: 12-13). Menurut kitab Yoel berpuasa disejajarkan menangis dan mengaduh,  yang diarahkan kepada Tuhan. Berpuasa itu memang berarti bersengsara, matiraga, tidak menyenangkan diri dan pengendalian. Berpuasa memang lebih dikaitkan dengan soal makanan dan minuman, karena makan dan minuman adalah kebutuhan dasar yang mampu mengikat manusia untuk bertindak semena-mena. Berpuasa diarahkan kepada Tuhan sebagai bentuk kemauan diri untuk dipimpin oleh Tuhan dan tidak mengikatkan diri pada kebutuan dasar manusia. Sebab memang hidup manusia tidaklah bergantung pada makanan saja (Mat 4). Berpuasa dan berbalik Tuhan segera harus dilaksanakan karena 'siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu' (Yl 2: 14); dan tak dapat disangkal kerinduan sekecil apapun yang kita miliki akan pasti mendatangkan rahmat dan berkat sebagaimana dinikmati oleh Zakheus (Luk 19).

 

 

 

Oratio

Yesus Kristus, ingatkan kami selalu agar tidak mudah mencari muka dalam pergaulan sehari-hari, malah ajari kami untuk mendengarkan sabdaMu dan melaksanakannya, sebab hanya sabdaMu yang menyelamatkan. Abu yang kami terima pun mengingatkan kami untuk mengamini sabdaMu. Amin.

 

 

 

Contemplatio

'Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga'.

 





Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012

Sabtu Hening