Rabu dalam Pekan Biasa IV, 1 Februari 2017

Ibr 12: 4-15  +  Mzm 103  +  Mrk 6: 1-6

 

 

 

Lectio

Pada suatu hari Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.  Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya."  Ia tidak dapat mengadakan satu mujizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka.  Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka.

 

 

 

Meditatio

Pada suatu hari Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Untuk apa Dia pergi ke tempat asalNya? Apakah memang ada rencana tersendiri, atau memang secara sengaja Nazaret menjadi sasaran tempat perwartaanNya secara periodik? Berapa hari kira-kira Dia berada di sana? Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia. Mereka takjub karena Yesus mengajar tidak seperti para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Dia mengajar dengan penuh kuasa dan wibawa. Yesus datang membawa sukacita bagi orang-orang sekampungNya.

'Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?', seru mereka semua. Dia hebat dan mengagungkan, karena memang yang seperti ini belum pernah terjadi. Allah mengunjungi umatNya. Mukjizat apa saja yang dikerjakan Yesus pada saat itu, sehingga membuat banyak orang begitu terpesona padaNya. Namun  'bukankah Ia ini Tukang kayu, Anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?'. Kebanggaan mereka seperti luntur dengan cepat bila mengingat akan latar belakang hidupNya.  Mereka kecewa dan menolak Dia. Mengapa mereka berbalik secepat itu? Bukankah seharusnya mereka bangga, kalau memang ada sesuatu yang dibanggakan dari Nazaret? Penolakan terhadap seseorang dengan mengingat latar belakang yang bersangkutan adalah wujud ketidakmauan diri untuk bertobat, karena memang kita tidak mau menikmati adanya perubahan pada yang baik dan benar. Penolakan akan kehadiran Yesus berarti penolakan diri untuk menjadi manusia baru.

'Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya', tegas Yesus. Sebuah rumusan umum yang seringkali terjadi, tetapi tak dapat disangkal perlawanan demi perlawanan selalu dialami Yesus dalam setiap melakukan pengajaran. Alasan yang dikemukan Yesus inilah yang seringkali juga digunakan oleh beberapa orang yang tidak mau tampil dan meneguhkan orang-orang yang ada di sekitarnya, sebaliknya malah mempersalahkan orang-orang yang di anggapnya menolak dirinya. Apakah sikap ini adalah perlawanan terhadap sabda dan kehendakNya? Apakah hal ini cukup termasuk sebagai dosa yang tidak membawa maut? Yesus merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. Kebersamaan hidup bukanlah sekedar kumpul bersama, melainkan keharusan adanya kesatuan hati yang menikmati kehadiran sesama. Itulah yang tidak dirasakan oleh orang-orang Nazaret dalam hidup bersama Yesus Tuhan.

Penolakan mereka orang-orang sekampungNya membuat Yesus tidak dapat mengadakan satu mujizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. Apakah penolakan mereka separah dengan desakan orang-orang Gerasa yang tidak mau kehilangan sesuatu lagi karena kehadiran Yesus? Ketidakpercayaan kita akan Tuhan Allah memang menghalang-halangi menerima kebaikanNya; sebaliknya kerinduan kita kepadaNya akan mendatangkan berkat sebagaimana dialami oleh perempuan yang sakit pendarahan dan juga Zakheus yang kaya itu.

Kita bukanlah orang-orang Nazaret. Kita adalah orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sang Mesias. Dialah Imanuel. Namun kiranya hendaknya kita semakin hari semakin setia kepadaNya, sebagaimana diingatkan kepada kita oleh surat kepada umat Ibrani. 'Hai anakku, pertama, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.  Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Kedua, berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Ketiga,  jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang' (Ibr 12: 4-15).

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk setia dan percaya kepadaMu, agar kamipun boleh menerima berkat keselamatan daripadaMu. Amin

 

 

Contemplatio

'Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya'.

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening