Sabtu dalam Pekan Biasa VI, 18 Februari 2017

Ibr 11: 1-7  +  Mzm 145  +  Mrk 9: 2-13

 

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka,  dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.  Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus.  Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."  Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan.  Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia."  Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri. 

Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.  Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan "bangkit dari antara orang mati."  Lalu mereka bertanya kepada-Nya: "Mengapa ahli-ahli Taurat berkata, bahwa Elia harus datang dahulu?"  Jawab Yesus: "Memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Hanya, bagaimanakah dengan yang ada tertulis mengenai Anak Manusia, bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihinakan?  Tetapi Aku berkata kepadamu: Memang Elia sudah datang dan orang memperlakukan dia menurut kehendak mereka, sesuai dengan yang ada tertulis tentang dia."

 

 

 

Meditatio

Suatu hari Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Ada apa mereka naik ke gunung? Mengapa hanya ketiga murid yang diajakNya, mengapa yang lain tidak diajakNya?  Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka,  dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.  Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Sebuah pengalaman apokaliptik yang menyenangkan. Peristiwa surgawi yang benar-benar tampak dan dirasakan oleh para murid. Mereka bahkan melihat juga Musa dan Elia. Mengapa Yohanes Pembaptis tidak ditampakkan dalam peristiwa mulia ini? Peristiwa mulia yang tidak pernah disangka-sangka akan mereka alami. 

'Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia', komentar Petrus kepada Yesus.  Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Petrus benar-benar merasakan ketidakberdayaan diri di hadapan Tuhan sang Kehiduapan, sang Mesias. Dengan adanya kemah buat mereka, maka akan berkelanjutanlah pengalaman yang indah ini. Biarlah mereka di dalam kemah, sedangkan kami bertiga cukuplah di alam terbuka ini.  Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: 'inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia'. Siapakah yang dimaksudkan dengan Anak yang dikasihiNya?  Mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri, dan suara itu memang berada dari atas di mana Yesus berdiri. Yesuslah tentunya yang dimaksudkanNya.  Yesus sepertinya tidak mau diagung-agungkan, dipuja-puji. Untuk menikmati kehadiranNya yang mulia cukuplah dengan mendengarkan sabda dan kehendak yang disampaikanNya. Suara dari awan adalah dapat dipastikan suara dari Tuhan Allah sendiri.

Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.  Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan 'bangkit dari antara orang mati'. Mereka taati sungguh-sungguh apa yang dikehendaki Yesus. Apakah mereka juga tidak menceritakannya kepada para rasul lainnya? Jika meraka memberitahukan kepada para rasul lainnya, apakah mereka bersalah? Kalau tidak diceritakannya, apakah tidak merasa bersalah mereka dengan kebersamaan sebagai komunitas para murid? 

Lalu mereka bertanya kepada-Nya: 'mengapa ahli-ahli Taurat berkata, bahwa Elia harus datang dahulu?'.  Jawab Yesus: 'memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Tetapi Aku berkata kepadamu: memang Elia sudah datang dan orang memperlakukan dia menurut kehendak mereka, sesuai dengan yang ada tertulis tentang dia'. Siapakah yang dimaksudkan? Tentunya Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis pun ditolak dan dilawan oleh orang-orang yang mendengarkan pengajarannya. Dia bahkan dituduh kerasukan setan, karena tidak makan dan minum sebagaimana orang pada umumnya. Demikian juga dengan 'Anak Manusia, bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihinakan'. Kalau Elia saja mengalami penolakan, apalagi Anak Manusia. Bukankah semakin tinggi pohon, semakin besar angin yang akan menerpanya.

Keberanian kita mendengarkan sabdaNya sebagaimana dikehendaki oleh suara Bapa di saat Anak Manusia berada di atas gunung, tentunya akan meneguhkan kita untuk semakin berani mengikutiNya. Sabda meneguhkan iman kepercayaan, dan iman kepercayaan inilah yang juga sekaligus meneguhkan keinginan hati untuk rindu mendengarkan suaraNya. Namun tak dapat disangkal, berkat iman pula kita dapat melakukan segala sesuatu sebagaimana yang disabdakan Tuhan kepada kita. Itulah yang hendak dikatakan dalam surat kepada umat Ibrani hari ini (Ibr 11: 1-7).

 

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk berani mendengarkan sabdaMu yang menyelamatkan, sebab hanya dengan sabdaMu kami beroleh keselamatan, dan bukannya dengan kepuasan mata inderawi ini untuk melihat segala sesuatu.

Yesus tambahkanlah iman kepercayaan kami. Amin.

 

 

 

Contemplatio

'Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia'.

 

 

 

 

Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012

Sabtu Hening