Selasa dalam Pekan Biasa VII, 21 Februari 2017

Sir 1: 1-4  +  Mzm 37  +  Mrk 9: 30-37

 

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang;  sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit."  Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.  

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?"  Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.  Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya."  Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:  "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku."

 

 

 

Meditatio

Suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang;  sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Seperti Yesus mengajar mereka dalam perjalanan ke Kapernaum. Mereka tidak berdiam diri dalam perjalanan, atau omong kosong sana-sini, melainkan Yesus menyampaikan ajaranNya. Ia berkata kepada mereka: 'Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit'. Yesus menyampaikan spiritualitas hidupNya. Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya. Mengapa Petrus berdiam diri, dan tidak memberi komentar? Bukankah dia sepertinya tahu apa yang disampaikan Yesus, sama seperti yang telah disampaikanNya kemarin? Apakah dia takut dimarahiNya kembali, atau memang dia juga tak paham apa yang dikatakan sang Guru?  

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: 'apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?'.  Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Apakah mereka membiacarakan suksesi kepemimpinan setelah mendengar bahwa Yesus akan dibunuh? Apakah pembicaraan Yesus tadi ditangkap mereka bahwa semuanya itu akan segera terjadi? Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: 'jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya'. Inilah spiritualitas pelayanan. Seorang pemimpin adalah dia yang melayani, dan bukan dilayani. Dia berusaha memberi teladan, bahkan dia harus berani menyerahkan nyawa bagi orang lain, yang mereka yang dilayaninya.  

Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:  'barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku'. Keberanian menerima orang yang lemah dan tak berdaya memang mendapatkan perhatian kasih dari Tuhan sendiri. Mengapa? Karena memang tidak mudah, membutuhkan usaha dan perjuangan. Menerima orang besar dan dihormati, menerima orang hebat dan terpandang tidaklah sulit, malah mungkin boleh numpang namanya. Sebaliknya merima mereka yang tak berdaya, minimal menerima anak kecil yang tidak memberikan apa-apa, membutuhkan usaha dan perjuanag. Membutuhkan kemauan baik yang tulus ikhlas dan tidak menuntut balik, karena memang juga tidak ada yang diharapkan. Kristus Tuhan sendiri yang akan menjadi berkat dan upah bagi kita. Benarlah juga apa yang disampaikan Yesus, bahwa segala yang kita lakukan untuk mereka yang hina berarti kita lakukan dan persembahkan bagi Dia sang Empunya kehidupan.

Kita diminta untuk berani menerima anak kecil, karena kita menerima Kristus sendiri. Inilah permintaan Kristus. Namun tak dapat disangkal, Yesus Tuhan malah sengaja dan menantang kita untuk berani menerima mereka yang kecil dan tersisih, bahkan harus berani memanggul salib dan menyangkal diri. Yesus sengaja menantang kita. Kita diuji dan dimurnikan sepertinya, sebagaimana dikatakan oleh kitab Sirakh. 'Anakku, jikalau engkau bersiap untuk mengabdi kepada Tuhan, maka bersedialah untuk pencobaan. Hendaklah hatimu tabah dan jadi teguh, dan jangan gelisah pada waktu yang malang.  Sebab emas diuji di dalam api, tetapi orang yang kepadanya Tuhan berkenan dalam kancah penghinaan. Kamu yang takut akan Tuhan percayalah pada-Nya, niscaya kamu tidak akan kehilangan ganjaranmu. Kamu yang takut akan Tuhan harapkanlah yang baik, sukacita kekal dan belas kasihan.Tuhan adalah penyayang dan pengasih, Ia mengampuni dosa dan menyelamatkan pada saat kemalangan' (Sir 2: 1-11).

 

 

 

Oratio

Yesus Kristus, bantulah kami dengan RohMu agar kami setia dalam mengabdi Engkau, agar kami berani menerima sesama kami yang kecil dan tersisih, sebab hanya menerima mereka kami menerima Engkau sendiri.

Yesus, bantulah kami dalam menghadapi aneka persoalan kehidupan ini. Amin.

 

 

 

Contemplatio

'Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku'.

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening