Hari Raya Santo Jusuf, Suami Santa Perawan Maria, 20 Maret 2017

2 Sam 7: 4-16  +  Mzm 89  +  Luk 2: 41-51

 

 

 

 

Lectio

Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tuaNya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia.

Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasanNya dan segala jawab yang diberikanNya.

Dan ketika orang tuaNya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibuNya kepadaNya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? BapaMu dan aku dengan cemas mencari Engkau." JawabNya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah BapaKu?". Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakanNya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibuNya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

 

 

 

Meditatio

Menurut hukum Taurat setiap orang, laki-laki khususnya yang tinggal dekat dengan Yerusalem harus menghadiri upacara Paskah di sana, maka kalau tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah, guna menunjukkan diri bahwa keluarga Yusuf dan Maria adlah keluarga yang taat beragama. Setiap anak lelaki yang telah berumur duabelas tahun dianggap sudah dewasa dan harus menjalankan kewajiban yang sudah ditetapkan kepadanya, sehingga ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Keluarga membiasakan anak-anak mereka mentaati hidup keagamaan. Inilah perayaan Paskah pertama bagi Yesus.

Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tuaNya. Mengapa Yesus ingin tinggal di situ dan tidak memberitahu kedua orangtuanya? Apakah karena baru pertama kali, sehingga perayaan tersebut menarik perhatiannya? Apakah orangtuanya yang kurang perhatian? Namun tak dapat disangkal, karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya. Dalam hiruk pikuk dan keramiaan setiap orang sringkali tidak dapat berpikir dengan jernih. Mereka  mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka.

Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Karena kebiasaan kaum wanita berjalan lambat maka mereka berangkat duluan, dan kaum laki-laki di belakang, sehingga di antara Maria dan Yusuf terjadi salah paham yang masing-masing mengira Yesus berjalan bersama dengan mereka. Itu kemungkinan bisa terjadi. Namun kiranya kelemahan kita sendiri yang membuat kita harus seringkali berjalan mulai dari nol lagi. Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Kebiasaan bagi para alim ulama di masa Paskah dengan berkumpul di Bait Allah dan bertukar jawab. Dan ternyata Yesus ada di situ, mendengarkan dan menjawab pertanyaan yang diajukan kepadaNya. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasanNya dan segala jawab yang diberikanNya. Siapakah yang membiayai hidup Anak Manusia itu selama tiga hari? Bagaimana komentar mereka dalam menanggapi jawaban Yesus ketika menujukkan kecerdasanNya?

Dan ketika orang tuaNya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibuNya kepadaNya: 'Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? BapaMu dan aku dengan cemas mencari Engkau'. Pertanyaan wajar seorang ibu yang khawatir dengan anaknya, karena si Anak tinggal tanpa pemberitahuan pada orangtuaNya. Siapakah yang sebetulnya harus disalahkan: kedua orangtua atau sang Anak? Tidak adanya media komunikasi yang canggih, komunikasi satu dengan lainnya terhambat sungguh. Media komunikasi sebenarnya hanya bisa dimengerti untuk berkomunikasi dan bukannya untuk bermain-main, atau malah menjauhan seseorang dari orang lain yang ada di sebelahnya.

Jawab Yesus kepada mereka: 'mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah BapaKu?'.  Yesus harus berada selalu di rumah Bapa. Menemukan Kristus Tuhan dipermudahkalau kita pergi dan tinggaldi rumahNya yang kudus? Atau memang semuanya ini dilakukkanNya sebagai ungkapan tidak langsung akan jati diri dan misiNya, bahwa Anak Manusia memang harus menghilang selama tiga hari di Yerusalem sebelum Dia bangkit dengan mulia? Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakanNya kepada mereka. Pemahaman jati diri Yesus dengan perutusanNya belum dapat dimengerti kedua orangtuaNya. Apakah Yesus sempat meminta maaf kepada kedua orangtuaNya atas peristiwa itu? Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibuNya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Yesus yang tahu siapa diriNya, tetap hidup dalam kesederhanaan dan Maria, dengan kerendahan hati menyimpan itu semua dalam hatinya.

Dalam peristiwa ini tidak terdengar satupun kata yang keluar dari mulut santo Yusuf, yang kita rayakan pestanya hari ini; malahan Maria, sang ibu yang sempat nada tinggi di hadapan Anak Manusia. Namun siapakah yang mengajak keluarga pergi ke bait Allah? Yusufkah? Siapakah yang melanjutkan kehendak Allah bahwa kelak keturunan Daud, sebagaimana pernah disampaikan oleh nabi Natan, bahwasannya 'Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya' (2Sam 12-13)? Bukankah dari keturunan Yusuf?  Paulus pernah berkata juga 'sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, dan karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran' (Rom 4: 18-22), apakah kita tidak boleh mengenakan semuanya itu juga kepada Yusuf? Bukankah dia tanpa kata-kata tetapi melakukan segala kehendak Bapa di surge? Santo Yusuf banyak mendapatkan hal yang indah, karena memang Tuhan adalah kasih setia bagi setiap orang yang berpegang pada perjanjianNya (Mzm 89).

 

 


Oratio

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk semakin mengerti kehendakMu dan melaksanakannya, terlebih di masa pra Paskah ini.

Santo Yusuf, doakanlah kami. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah BapaKu?'

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012