Minggu dalam Masa Prapaskah, 5 Maret 2017

Kej 2: 7-9   +  Rom 5: 12-19  +  Mat 4: 1-11

 

 

 

Lectio

Pada waktu itu Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti." Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."

Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"

Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.

 

 

 

Meditatio

Pada waktu itu Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Pencobaan itu sepertinya dibiarkan oleh Allah. Kalau Yesus saja dibiarkan oleh Bapa mengalami pencobaan, tentunya apalagi kita umat manusia yang begitu lemah dalam aneka kecenderungan insani; apalagi 'tiap-tiap orang mudah dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya' (Yak 1: 14)

Setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: 'jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti'. Cobaan pertama amatlah mendasar, yakni soal makan dan minum. Wajarlah kalau seseorang gelisah dan kuatir jika tidak ada makanan dan minuman. Bagaimana bisa melakukan segala sesuatu kalau memang perut kosong. Puasa adalah bentuk pengendalian diri yang amat mendasar juga tentunya. 'Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah', sahut Yesus. Yesus membenarkan memang, bahwa makan adalah kebutuhan mendasar dalam kehidupan. Namun jawaban ini hendak mengingatkan kita, agar mampu mengatasi diri dalam situasi lapar dan haus. Mungkin tidak ada dari kita yang berkata apa yang kita makan, kesulitan kita baru sebatas kita makan apa. Maka tentunya kesempatan mendengarkan sabda Tuhan masih terbuka lebar, karena memang kita tidak mengalami kesulitan makan. Kiranya sabda Tuhan hari ini hendak mengatakan, bahwasannya kita yang tidak mengalami kesulitan untuk makan, hendaknya kita juga tidak kesulitan dalam mendengarkan sabda Tuhan.

Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: 'jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, bukankah Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu'. Ada kesempatan, ada kemurahan, mari kita nikmati, mari kita menjerumuskan diri dalam dosa. Hendaknya kita yang tahu bahwa Allah itu maharahim, jangan men-test kerahimanNya dengan berbuat dosa. 'Jangan menyangka pengampunan terjamin, sehingga engkau menimbun dosa demi dosa' (Sir 5: 5). Janganlah kita bermain api, bila memang kita sudah tahu bahwa api itu membakar. 'Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu', tegas Yesus. Sebaliknya ketidak mauan kita untuk segera bertobat akan mendatangkan hukuman setimpal bagi kita, sebab bukankah 'kemurkaan ada pada Tuhan, dan geram-Nya turun atas orang jahat' (Sir 5: 6). Kiranya tak dapat disangkal, orang-orang yang mau mencobai Allah adalah mereka orang-orang yang sudah kenyang dan tak berkekurangan apapun.

Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: 'semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku'. Rasa kenyang yang berkelanjutan, entah berhasil mencobai Allah atau tidak, seseorang akan mengalihkan perhatiannya kepada yang bukan Allah, karena memang Allah tidak berkenan mengabulkan segala permohonannya. Mereka beranggapan di luar Allah akan mendapatkan segala sesuatu. Ada mammon. Ada Iblis.  'Enyahlah, Iblis!', tegas Yesus, 'Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!'. Mengapa? Karena hanya dalam Dia Tuhan Allah ada kehidupan dan keselamatan. Di luar Allah, hanya ada kebinasaan. Di luar Allah, menurut  Yohanes Penginjil, yang adalah dunia itu, dapat memberikan segala yang indah dan baik, yang mirip dengan yang dimiliki Allah, bahkan lebih menyenangkan, tetapi semuanya itu imitasi dan bersifat sementara. Matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat. Apalagi buah itu amat menarik, enak dimakan, sebab memberi pengertian (Kej 2-3). Kata-kata seperti inilah yang akan diperoleh dari luar selain Allah. Namun semuanya tipuan belaka. Di luar Allah adalah fana.

Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, tolonglah kami agar tidak mudah tergoda oleh kenikmatan duniawi yang membawa kebinasaan, tetapi mampukan kami untuk semakin berani mendengarkan sabdaMu yang menyelamatkan. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!'.

 

 

 

Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012