Selasa dalam Pekan Paskah IV, 28 Maret 2017

Yeh 47: 1-9  +  Mzm 46  +  Yoh 5: 1-3.5-16

 

 

 Lectio

Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu. Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.  Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?" Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku."  Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah."  Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan.

Tetapi hari itu hari Sabat.  Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu: "Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu." Akan tetapi ia menjawab mereka: "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah." Mereka bertanya kepadanya: "Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah" Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu. 

Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia. Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.

 

 

 

Meditatio

Pada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu. Tempat yang suci kiranya Betesda ini. Tempat ini sepertinya melebihi situasi balai pengobatan, karena adanya nada magis.

Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Siapakah dia tidak disebutkan memang namanya. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: 'maukah engkau sembuh?'. Mengapa Yesus menanyakan hal itu? Adakah orang yang tidak mau disembuhkan dari sakitnya? Adakah orang tidak lepas dari keterpurukan hidupnya? Jawab orang sakit itu kepada-Nya: 'Tuan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku'. Kasihan kali orang satu ini. Namun mengapakah semuanya bisa terjadi seperti itu? Mengapa tidak ada orang yang membantu dia menurunkannya ke dalam kolam? Tidak adakah kerjasama di antara orang-orang pada saat itu? Siapakah pengelola tempat itu? Atau memang banyak orang malah takut mendekati orang satu ini? Kenapa orang-orang tidak mau menolong orang satu ini?

Kata Yesus kepadanya: 'bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah'.  Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Hanya dengan sabdaNya segala-galanya dapat terjadi dengan indahnya. Yesus tidak memperhitungkan segala kelemahan dan dosa orang satu ini. Belaskasih Tuhan mengatasi segala-galanya.

Tetapi hari itu hari Sabat.  Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu: 'hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu'. Orang yang mendapatkan berkat dan kasih dari Tuhan memang tidaklah bebas dari aneka tantangan. Hidup tidaklah selalu indah dan manis.   Akan tetapi ia menjawab mereka: 'orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: angkatlah tilammu dan berjalanlah'. Mereka bertanya kepadanya: 'siapakah orang itu yang berkata kepadamu: angkatlah tilammu dan berjalanlah'. Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu. Kiranya yang perlu kita protes: mengapa orang yang disembuhkan itu tidak segera mengejar Yesus setelah mendapatkan kesembuhan guna mengucapkan terima kasih? Kalau tokh Yesus tidak bisa ditemui, apakah dia lupa kalau hari itu adalah hari Sabat, minimal apakah dia tidak siap mempertanggungjawabkan pekerjaan yang dilakukan? Mengapa dia begitu mudahnya melemparkan tanggungjawab ke orang lain? Orang egois sungguh sepertinya manusia satu ini.

Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: 'engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk'. Teguran yang amat keras diberikan Yesus kepadanya. Dalam ketidak berdayaannya bukannya dia semakin merundukkan diri untuk meminta bantuan orang lain, malah sebaliknya dia menenggelamkan diri dalam dosa. Dosa apa yang kira-kita sempat dilakukan orang yang tadinya sakit ini selama dia terbaring dekat kolam Betesda itu? Tentunya sakit yang dialaminya bukanlah dosa-dosa yang dimilikinya, tetapi Yesus mengajak agar dia tetap terus berkanjang dalam pertobatan agar  jangan terjadi yang lebih buruk. Kelemahan dan kehebatan kita hendaknya semakin membuat kita untuk semakin mengandalkan kekuatan daripadaNya. Kalau sakit, bukankah kita harus berani meminta bantuan daripadaNya? Bukankah kalau kita sehat pun kita tidak mudah jatuh dalam pencobaan, sebagaimana yang kita doakan selalu dalam doa Bapa Kami?

Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia. Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat. Apa maksudnya dia memberitahukan bahwa Yesus yang telah menyembuhkan dirinya? Yesus sendiri tidak merasa dipermainkan oleh orang satu ini. Bukankah Yesus sudah terbiasa menghadapi aneka umatNya yang degil hatinya? Malahan kasih Yesus Tuhan terus melimpah tiada hentinya sebagaimana digambarkan oleh kitab Yeheskiel bab 47. KasihNya memberi kehidupan yang lebih indah. Dari mana orang satu itu tahu kalau Orang yang baru menyembuhkan dirinya itu ternyata adalah Yesus? Bukankah Yesus tidak menyebutkan namaNya?

 

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, terima kasih untuk sabdaMu hari ini, mengingatkan kami kembali agar tidak jatuh dalam dosa, karena mengandalkan kekuatan diri, tetapi senantiasa bergantung dan berharap kepadaMu, sebab Engkau mengasihi dan menginginkan keselamatan bagi kami. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk'.

 




Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012