Minggu Palma, Minggu dalam Pekan Paskah VI, 9 April 2017


Yes 50: 4-7  +  Fil 2:6-11  +  Mat 27: 11-54

 

 

 

Lectio

Pada saat itu Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya."  Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apa pun.  Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?"  Tetapi Ia tidak menjawab suatu kata pun, sehingga wali negeri itu sangat heran. Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak. Dan pada waktu itu ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Yesus Barabas. Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: "Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?" Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki. Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: "Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam." Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati. Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: "Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?" Kata mereka: "Barabas." Kata Pilatus kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!" Katanya: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Ia harus disalibkan!" Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!" Dan seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!" Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai raja orang Yahudi!" Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya.  Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan. Ketika mereka berjalan ke luar kota, mereka berjumpa dengan seorang dari Kirene yang bernama Simon. Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus. Maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak. Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya. Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi. Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia. Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: "Inilah Yesus Raja orang Yahudi."  Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya. Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!" Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata: "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya. Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah." Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga.  Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?  Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: "Ia memanggil Elia."  Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum. Tetapi orang-orang lain berkata: "Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia." Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.  Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, mereka pun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang. Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah."

 

 

 

Meditatio

Kalau dahulu setelah Yesus dilahirkan di Betlehem orang-orang Majus dari Timur mencari-cariNya dengan berkata: 'di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia' (Mat 2: 2), dan hanya para imam kepala, ahli-ahli Taurat yang tahu dimana Mesias dilahirkan, kini tanpa orang yang mencari dituliskan: 'Inilah Yesus Raja orang Yahudi'. Ketiga orang yang mencari Yesus sebatas mengenal Yang baru dilahirkan adalah seorang Raja, demikianlah Pilatus pun menuliskan sebatas Yesus sebagai seorang Raja. Tidaklah demikian dengan para ahli kitab dan tua-tua bangsa Yahudi. Mereka mengenal Yesus sebagai seorang Mesias. Maka layaklah kalau mereka sekarang ini ketikaYesus bergantung di kayu salib mereka berteriak: 'hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!  Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel?'. Ternyata Raja yang mereka cari adalah Raja yang tersalib. Kalau dahulu, Raja yang mereka cari itu tersembunyi, sekarang Raja itu ditampakkan dan dipamerkan kepada banyak orang, karena memang tidak ada orang yang mencariNya. Orang-orang yang percaya dan menyebut diri para murid, mereka pun lari tunggang langgang. Orang-orang yang percaya kepadaNya lari, karena mereka tidak mampu menerima kenyataan. Sekaligus mereka takut dan tidak berani melawan orang-orang yang mengenal kitab suci, malah ahli dalam bidangnya, tetapi mereka tidak mengenali bahwa Dia yang tersurat dalam kitab suci itu ada di depan mata mereka.

Siapakah mereka itu sebenarnya? Mereka itu adalah orang-orang yang ragu-ragu untuk mengambil keputusan. Di satu pihak mereka tahu dari kitab suci, bahwa Anak Manusia dari Bethlehem itu adalah Mesias, tetapi di lain pihak mereka tidak mau percaya kepadaNya, walau Dia telah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan Bapa kepadaNya; dan bahkan Dia telah menawarkan: 'barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu' (Yoh 14: 22). Apalagi pengetahuan mereka akan kitab suci tidaklah lengkap. Mereka hanya percaya kepada Orang yang dilahirkan di Bethlehem (Mat 2, 5) dan bukannya dari Nazaret (Mat 2: 23), walau semuanya itu tersurat dalam kitab suci. Apakah orang-orang akan percaya kepada Yesus, apabila Pilatus menuliskan Inilah Yesus Orang Betlehem, Raja  Orang Yahudi? Apakah kalau di kayu salib tertulis INRI, mereka semua akan berkata: 'sungguh, Ia ini adalah Anak Allah', Sebagaimana dikatakan oleh kepala pasukan dan para prajurit?

Namun tak dapat disangkal, Kisah Sengsara Tuhan kita Yesus Kristus mengingatkan kita akan misteri luhur dan mulia dalam perjalanan hidup kita ini. Dia Kristus Tuhan 'yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib' (Fil 2). Kisah sengsara mengingatkan, bahwa kita dapat mengenal Allah dengan indahnya, bukan ketika Dia berada di surga sana, melainkan ketika Dia bergantung dikayu salib demi keselamatan umatNya.

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, melalui salibMu ajarilah kami untuk meneladani semangatMu, agar kami tidak menjadi egois, tetapi semakin berani berkorban untuk orang lain. Terima kasih ya Yesus. Amin

 

 

Contemplatio

'Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah'.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening