Sabtu dalam Pekan Paskah V, 8 April 2017

Yeh 37: 21-28  +  Mzm  +  Yoh 11: 45-56

 

 

 

Lectio

Suatu hari banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.  Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu.  Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: "Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita." Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa." Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya.

Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain: "Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?"

 

 

 

Meditatio

Suatu hari banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.  Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. Inilah realitas kehidupan. Ada pro dan kontra terhadap suatu peristiwa, terhadap kehadiran Tuhan pun juga terjadi seperti itu.

Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: 'apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita'. Mengapa orang-orang itu berkata seperti itu. Bukankah Yesus selalu menggunakan bait Allah juga dalam pengajaranNya? Tentunya orang-orang tidak tahu menahu dengan semua peristiwa itu. Nada politik masuk dalam ranah penggunaan bait Allah. Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: 'kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa'. Yesus lebih baik dikurbankan bagi banyak orang. Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.

Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. Itulah sikap resmi dari mereka orang-orang yang duduk di kursi Musa. Berusaha mempertahankan apa yang mereka anggap miliknya, dengan berusaha menjatuhkan, bahkan membunuh Orang yang dianggap membahayakan posisi, jabatan atau harta kekayaan mereka. Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya. Apakah Yesus bersembunyi? Atau memang Yesus menunggu saatNya yang belum tiba? Yesus tidak takut akan kematian, malah sebaliknya Dia mau membongkar kematian dan melepaskan setiap orang dari ikatan-ikatannya.

Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain: 'bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?'. Kita tunggu saja. Segala-galanya ada waktunya. Kerinduan mereka bukanlah kerinduan seperti yang digambarkan oleh Yeshezkiel: 'tempat kediaman-Ku pun akan ada pada mereka dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Maka bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, menguduskan Israel, pada waktu tempat kudus-Ku berada di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya' (Yeh 37: 27-28). Bukan penantian seseorang yang merindukan kedatangan sang Penyelamat, tetapi lebih kepada sikap penasaran yang ingin mengetahui apakah benar Yesus itu adalah Dia yang berasal dari Allah, yang berani menghadapi tantangan.

 

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, bantulah kami agar berani menerima orang lain yang melebihi kami bukan sebagai ancaman, tetapi menjadi daya semangat kami dalam mencapai segala suatu. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat'.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012