Hari Raya Pentakosta, 4 Juni 2017

Kis 2: 1-11 + 1Kor 12: 3-13 + Yoh 20: 19-23

 

 

 

Lectio

Suatu hari ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"  Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."

 

Meditatio

Suatu hari ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Wajar memang mereka takut dan gentar, mengingat peristiwa yang terjadi pada Guru mereka. Kemarahan yang meluap-luap dari tua-tua bangsa Yahudi membuat orang-orang Yahudi sendiri ketakutan. Mereka seharusnya menjadi pelindung bagi anak-anak bangsa, tetapi malah sebaliknya. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: 'damai sejahtera bagi kamu!'. Yesus selalu membawa damai dan sukacita, karena memang itulah karakteristik Tuhan Allah sang Empunya kehidupan. Kehadiran Tuhan yang membawa damai sejahtera tentunya bagi setiap orang. Pewarta sabda kiranya membawa sukacita dan damai.  Sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Penunjukkan tangan dan lambung adalah guna menyatakan luka-luka yang pernah dideritaNya, dan memang Dialah yang telah didera, disalibkan, dan mati, tetapi kini telah bangkit dan hidup kembali, karena memang Dialah sang Empunya kehidupan. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.  

'Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu'. Yesus meminta para murid untuk melanjutkan karya perutusan yang diterimaNya selama ini dari Bapa. Mengapa Yesus mengutus para muridNya? Mengapa semuanya itu tidak dikerjakanNya sendiri? Permintaan Yesus kepada para muridNya karena Yesus mengajak para murid, kita semua untuk berani berbagi dengan sesama. Bukankah kita yang telah menerima, sungguh tepatlah kalau kita berani berbagi? Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: 'terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada'. Inilah karunia terindah yang kiranya harus dipertahankan, yakni mengampuni dan memaafkan kesalahan sesama. Sebagaimana kasih Bapa yang penuh belaskasih, demikian pula setiap orang yang mengakui mengandalkan kekuatan dari Roh Kristus. RohNya yang kudus, karena memang kita telah menerimaNya, berani mengampuni dan memafkan kesalahan sesama. Bukan hanya tujuh kali, melainkan sampai tujuhpuluh kali tujuh kali.

Bukankah memang pengampunan, memaafkan dan pemahaman akan hidup bersama yang tidak lepas dari kekurangan sana sini akan semakin menyatukan kita bersama. Peristiwa Pentakosta mengingatkan kita bahwa Allah menghendaki kita semua bersatu hati. Kenyataan bahwa mereka itu 'orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma,  baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab' dapat mendengar para murid berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah (Kis 2: 8-9) menunjukkan, bahwa kesatuan hati dalam perbedaan asal usul dan bahasa membuat mereka penuh sukacita. Adanya perbedaan malah menujukkan kita saling melengkapi dan menyempurnakan, dan kita ada bersama orang lain. Kita ini bagikan satu tubuh yang masing-masing anggota saling membutuhkan satu sama lain. 'Sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, … satu Roh' (1Kor 12: 12-13), demikianlah kita dalam keberagaman hidup bersama.

Oratio

Ya Yesus, Engkau Sumber damai dan sukacita. Ajari dan bantulah kami, agar di dalam keberagaman, kami dapat saling menerima satu sama lain. Merasakan indahnya sebagai satu saudara di dalam Engkau yang saling mengisi satu sama lain. Ya Roh Kudus, kuatkanlah kami selalu di dalam mewartakan kasihMu. Amin

 

 

Contemplatio

'Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu'.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening