Kamis dalam Pekan Biasa IX, 8 Juni 2017

Tb 8: 5-9  +  Mzm 128  +  Mrk 12: 28-34

 

 

 

Lectio

Suatu hari seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?"  Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan." Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

 

 

Meditatio

Suatu hari seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya. Berani juga orang satu ini. Dia tidak kuatir berjumpa dengan Yesus, Guru Orang Nazaret itu. Entah alasan apa sehingga ia memberanikan diri berjumpa dengan Yesus.

'Hukum manakah yang paling utama?'. Itulah pertanyaan yang dilontarkannya. Apakah selama ini dia tidak tahu sehingga bertanya dan bertanya kepadaNya? Apakah dia hendak mencobai Yesus atau memang mau mendapatkan sesuatu yang lebih indah. Dia datang seorang diri.  Jawab Yesus: 'hukum yang terutama ialah: dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu'. Tuhan itu esa, dan tidak ada yang lain, maka perlulah mencintai dan berpasrah kepadaNya. Tuhan sendiri memang pernah bersabda: 'Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini' (Yes 45: 5-7). Dialah segala-galanya. Kita adalah ciptaan dan milikNya, upat penggembalaanNya, maka layaklah kalau kita bersujud kepadaNya.

'Dan hukum yang kedua ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'. Mengapa harus mengasihi sesama? Apakah haya karena sama-sama manusia, yang mempunyai martabat sama? Tidak ada alasan pasti memang dalam perikup ini. Walau tak dapat disangkal Yohanes dalam suratnya menegaskan bagaimana kita dapat mengasihi yang tak kelihatan, kalau terhadap yang  kelihatan saja, kita tidak menaruh perhatian. 'Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini', tegas Yesus kepada ahli Taurat itu. Cinta kepada Tuhan dan sesama menjadi hokum utama yang tidak bisa diabaikan oleh siapun. Kalau pun kita dapat melakukan segala kebaikan, dan bahkan mempunyai banyak anugerah, tetapi kalau kita tidak mempunyai kasih, segala yang kita miliki itu adalah sia-sia belaka.  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: 'tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan'. Ahli Taurat ini memang sudah tahu hokum utama ini, yang melebihi aneka persembahan  yang hanya lambang dari tanda bakti, keberundukan diri dan rasa syukur kepada Tuhan. Aneka persembahan adalah simbolisasi dari sikap hati orang ketika menghadap kepadaTuhan Allah.

Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu. Yesus tahu benar isi hati seseorang. Lalu Yesus berkata kepadanya: 'engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!'.  Penegasan  Yesus ini apakah dapat kita mengerti bahwa dia, ahli Taurat itu, hampir sempurna hidupnya? Dia seorang yang saleh? Sejauh mana kesalehan orang satu ini, sama dengan Bartimeus, perwira Romawi yang anaknya perempuan sakit, atau perempuan Fenisia?

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, buatlah kami semakin hari semakin berani menggunakan segala kemampuan kami untuk mendekatkan diri kepadaMu. Keberanian ini memang hanya ingin menunjukkan bahwa kami orang-orang yang memerlukan kasihMu yang menyelamatkan itu. Tanpa kasihMu, kami tak dapat bertindak apa-apa Amin.

 

 

Contemplatio

'Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!'.

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening